DI YOGYAKARTA — Kerja sama ini tidak hanya sekadar proyek energi terbarukan. Pertamina NRE dan PTBA akan memanfaatkan ribuan hektar lahan pascatambang yang sudah direklamasi untuk dijadikan pusat energi surya. Corporate Secretary Pertamina NRE Sri Nur Hidayati menegaskan, kolaborasi ini diharapkan menghasilkan proyek energi hijau berkelanjutan sekaligus mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan proyek energi hijau berkelanjutan, tetapi juga mendorong peningkatan TKDN, memperkuat ekosistem industri nasional, serta membuka peluang pendanaan hijau," ujar Sri dalam keterangan resminya.
Melalui sinergi ini, Pertamina NRE menargetkan peran sentral dalam mengonversi aset nasional menjadi pusat energi bersih. Targetnya, proyek ini turut mendukung program ambisius pemerintah membangun PLTS berkapasitas 100 GW dalam lima tahun ke depan.
PT Bukit Asam tidak hanya menyiapkan lahan. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menyatakan komitmen perusahaan terhadap prinsip "Sustainability Through Technology".
PTBA akan mengoptimalkan aset nasional, termasuk lahan pascatambang yang telah direklamasi, untuk menjadi pusat energi hijau baru. Ruang lingkup kerja sama mencakup identifikasi lokasi, studi kelayakan teknis dan finansial, evaluasi model kerja sama, hingga pengembangan proyek secara penuh.
Sinergi antara dua BUMN ini menjadi langkah konkret mempercepat target Net Zero Emission Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan bekas tambang yang selama ini tidak produktif, proyek PLTS ini diharapkan mampu menyediakan energi bersih yang mandiri dan berkelanjutan.
Langkah ini juga membuka peluang pendanaan hijau (green financing) yang semakin diminati investor global. Jika berhasil, model kerja sama ini bisa menjadi cetak biru bagi pemanfaatan lahan kritis lainnya di Indonesia untuk proyek energi terbarukan.