DI YOGYAKARTA — Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 6 sen (0,08%) ke posisi US$76,24 per barel pada perdagangan Jumat pagi. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Agustus melemah 4 sen (0,06%) menjadi US$72,04 per barel. Meski terkoreksi tipis, harga acuan global ini masih bertengger di jalur hijau secara mingguan.
Pasar mendapat sedikit kelegaan setelah pemerintahan Donald Trump memutuskan untuk tidak menargetkan infrastruktur energi Iran dalam serangan balasan terbaru. "Pasar merasa sedikit tenang, ditambah pernyataan Presiden Trump yang tidak memperkirakan konflik akan meningkat menjadi perang skala penuh," ujar Kepala Strategi Komoditas ANZ Bank, Daniel Hynes, kepada Reuters.
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari kondusif. Iran melancarkan serangan balasan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk, menyusul serangan AS ke provinsi pesisir selatan dan wilayah timur Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di Bushehr, lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Akibatnya, proses pembukaan kembali penuh Selat Hormuz—jalur yang mengangkut 20% pasokan minyak dan gas dunia—kembali tertunda. Perang ini pecah setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan pada 28 Februari lalu.
Lonjakan harga minyak yang seharusnya lebih tinggi berhasil diredam oleh sentimen negatif dari dua ekonomi terbesar dunia. Di Amerika Serikat, data klaim tunjangan pengangguran yang menurun pekan lalu justru mengindikasikan pasar tenaga kerja yang stagnan. Pola 'slow-hire, slow-fire' ini menimbulkan kekhawatiran bahwa aktivitas ekonomi dan konsumsi energi bisa melambat.
Sementara itu, dari China, inflasi harga produsen (PPI) melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada Juni. Tekanan biaya produksi yang tinggi, di tengah lemahnya permintaan domestik, mempersempit margin keuntungan perusahaan. Kondisi ini berpotensi menekan aktivitas manufaktur dan impor minyak mentah China sebagai konsumen energi terbesar dunia.
Meskipun ada tekanan dari sisi permintaan, premi risiko geopolitik masih menjadi katalis utama pekan ini. Brent diperkirakan menguat sekitar 6% secara point-to-point, sementara WTI berada di jalur kenaikan sekitar 5%. Investor kini akan fokus pada eskalasi konflik di akhir pekan dan data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pekan depan untuk menentukan arah selanjutnya.