YOGYAKARTA — Pergerakan rupiah yang terus melemah dalam sepekan terakhir mulai membebani sektor usaha mikro di DIY. Berdasarkan data pasar uang yang dihimpun Antara di Jakarta, rupiah ditutup di level Rp18.090 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp18.065.
Pelemahan ini dipastikan memicu kenaikan harga bahan baku impor seperti gandum, kedelai, dan susu. Di Pasar Beringharjo, para pedagang mengeluhkan harga tepung terigu dan minyak goreng kemasan yang mulai merangkak naik sejak Jumat pekan lalu.
“Kami belum berani menaikkan harga jual secara drastis karena daya beli pelanggan sudah turun,” ujar salah seorang pedagang sembako di Pasar Kranggan, Yogyakarta.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Budi Hanoto, menyebut pelemahan rupiah masih dalam batas wajar namun perlu diwaspadai. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga barang impor berpotensi mendorong inflasi di sektor pangan dan transportasi pada bulan depan.
Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental ekonomi.
Pelaku UMKM batik dan kerajinan di Kota Yogyakarta juga merasakan dampaknya. Bahan baku pewarna sintetis dan kain impor yang dibeli dengan dolar AS membuat biaya produksi membengkak.
“Kami terpaksa mengurangi margin keuntungan agar harga jual tidak terlalu tinggi. Kalau tidak, pelanggan bisa lari ke produk murah,” kata pemilik usaha batik di Kampung Batik Giriloyo.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Ahmad, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga AS dan ketidakpastian ekonomi global menjadi pemicu utama.
Ia menyarankan masyarakat dan pelaku usaha di DIY untuk mengelola risiko valas dengan baik, termasuk memanfaatkan instrumen lindung nilai yang disediakan perbankan.