YOGYAKARTA — Posisi rupiah yang kembali merosot menjadi Rp18.071 per dolar AS pada Kamis pagi ini menjadi sinyal waspada bagi perekonomian daerah. Pelemahan sebesar 0,02 persen dari penutupan sebelumnya di Rp18.068 per dolar AS ini terjadi di tengah masih tingginya permintaan valas di pasar domestik.
Pelemahan rupiah biasanya diikuti dengan kenaikan harga barang impor. Di Yogyakarta, dampak paling terasa pada produk elektronik, suku cadang kendaraan, hingga bahan baku industri kreatif seperti kain dan aksesoris yang mayoritas masih didatangkan dari luar negeri.
Ketua Paguyuban UMKM Sleman, yang dihubungi secara terpisah, mengakui bahwa fluktuasi kurs membuat perencanaan biaya produksi menjadi sulit. "Kami harus pintar-pintar mengatur stok dan menyesuaikan harga jual agar tidak terlalu membebani konsumen," ujarnya.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), untuk menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah daerah, termasuk DIY, diharapkan segera mengoptimalkan penggunaan produk lokal untuk mengurangi ketergantungan impor di tengah tekanan nilai tukar.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY sebelumnya mencatat bahwa inflasi di kota Yogyakarta masih terkendali, namun tekanan dari sisi nilai tukar menjadi salah satu faktor yang dipantau ketat oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Di sisi lain, pelemahan rupiah bisa menjadi berkah bagi sektor pariwisata dan ekspor DIY. Nilai tukar yang lebih murah membuat harga paket wisata dan produk kerajinan khas Yogyakarta lebih kompetitif di mata turis asing dan pembeli internasional.
Pemerintah Provinsi DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan mendorong para eksportir batik, perak, dan furnitur untuk memanfaatkan momen ini guna memperluas pasar ke luar negeri. "Ini momentum yang tepat untuk meningkatkan volume ekspor," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag DIY.
Pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal pekan ini masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Pelaku pasar di Yogyakarta diimbau untuk mencermati pergerakan kurs dan melakukan lindung nilai jika memiliki kewajiban dalam dolar AS.