SLEMAN — Rumah milik Agus di Seyegan tak henti dilanda kebakaran. Hingga Rabu (3/6/2026) pagi, total kejadian sudah mencapai 87 kali, dengan api terakhir muncul pada pukul 00.50 WIB membakar rak di ruang tengah, sandal, lemari, dan buku di kamar. Tim peneliti pun turun tangan untuk mengungkap sumber masalahnya.
Koordinator tim peneliti FTME UPN 'Veteran' Jogja, Ardian Novianto, mengatakan pengukuran dilakukan menggunakan metode geolistrik. Metode ini memetakan lapisan batuan berdasarkan nilai resistivitas atau hambatan jenis listrik batuan.
"Jadi ini kami akan mencoba melakukan identifikasi untuk subsurface-nya. Artinya kita mau mencoba melihat lapisan-lapisan bawah permukaannya seperti apa," kata Ardian di lokasi, Rabu (3/6/2026).
Tim berencana membuat enam hingga tujuh lintasan pengukuran dengan panjang sekitar 200 meter per lintasan. Targetnya, kata Ardian, memperoleh gambaran luas mengenai kondisi geologi kawasan tersebut, bukan hanya satu titik saja.
Fokus utama penelitian saat ini adalah mengidentifikasi lapisan batuan yang berpotensi menjadi tempat akumulasi gas. Ardian menjelaskan, jika ada struktur atau rekahan pada batuan, tim juga ingin menganalisisnya sebagai jalur keluarnya gas.
Penyelidik Bumi Muda Balai Besar Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BBPTKG), Aris Dwi Nugroho, menduga sementara gas bergerak melalui rekahan atau kekar batuan di bawah permukaan menuju area rumah Agus.
"Di sebelah barat ada struktur sesar yang kemudian membentuk sesar-sesar kecil atau kekar. Dugaan sementara gas menyebar melalui rekahan itu menuju ke rumah Pak Agus," ujar Aris.
Jenis gas yang memicu kebakaran berulang ini belum bisa dipastikan. Ardian mengakui dari beberapa pengukuran memang ada indikasi metana, namun jumlahnya minor. "Tadi malah ada informasi hidrogen," katanya.
Aris menambahkan, hasil pemetaan menunjukkan terdapat titik yang terdeteksi mengandung gas dengan konsentrasi sekitar 4 persen LEL (Lower Explosive Limit). Angka itu tergolong rendah. "Di sisi timur tidak ada metananya, di barat daya juga tidak ada. Adanya di barat laut dekat pohon bambu, tetapi kecil," jelasnya.
Di lokasi yang sama, tim BBPTKG melakukan pembersihan area sungai yang ditengarai menjadi sumber gas. Alat berat diterjunkan untuk mengeruk lumpur dan membersihkan rumpun bambu.
"(Pengerukan ini untuk) Menghilangkan source-nya metan yang diduga di sini. Tapi masih dugaan," kata Aris. Ia berharap setelah lumpur dan bambu hilang, gas metana tidak lagi muncul di sana.
Seluruh dugaan ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui pengukuran ulang dan analisis laboratorium. "Nanti hasilnya nunggu lab," pungkasnya.