YOGYAKARTA — Ribuan becak motor yang selama ini beroperasi di Malioboro dan sekitarnya akan bertransformasi. Pemerintah Daerah DIY memutuskan untuk menggantinya dengan becak kayuh yang dilengkapi motor listrik sebagai tenaga bantu.
Becak listrik yang dimaksud bukan sekadar becak motor biasa yang mesinnya diganti. Kendaraan ini tetap menggunakan mekanisme kayuh, namun ditambahkan motor listrik sebagai pendorong saat melaju di tanjakan atau jarak jauh.
Konsepnya berbeda dengan becak motor bermesin bensin yang selama ini beroperasi. Dengan sistem ini, pengemudi tetap mengayuh, namun beban fisiknya berkurang secara signifikan.
Kebijakan ini muncul dari kekhawatiran terhadap polusi suara dan udara yang ditimbulkan becak motor konvensional di kawasan Malioboro. Sebagai ikon wisata nasional, Malioboro dinilai perlu menghadirkan moda transportasi yang lebih bersih.
Selain itu, pemerintah ingin mempertahankan identitas becak kayuh sebagai transportasi tradisional khas Yogyakarta. Kehadiran mesin bensin dianggap mengurangi nilai budaya yang melekat pada becak.
Dari sisi lingkungan, emisi karbon dari becak listrik jelas lebih rendah. Suara mesin yang hampir senyap juga dinilai lebih nyaman bagi wisatawan yang berjalan kaki di trotoar Malioboro.
Pengemudi becak pun diuntungkan. Biaya operasional untuk mengisi daya baterai disebut lebih murah dibandingkan membeli bensin setiap hari. Tenaga motor listrik juga membantu saat jalan menanjak, yang selama ini menjadi keluhan utama pengayuh becak.
Di sisi lain, infrastruktur pengisian daya masih menjadi pekerjaan rumah. Stasiun pengisian baterai di titik-titik strategis Malioboro belum tersedia secara merata.
Harga konversi atau pembelian unit baru juga diperkirakan tidak murah. Pemerintah belum merinci skema subsidi atau bantuan yang akan diberikan kepada para pengemudi becak yang terdampak.
Para pengemudi becak motor yang selama ini menggantungkan hidup di Malioboro menjadi pihak yang paling menanti kepastian. Mereka khawatir biaya konversi menjadi beban baru, atau justru kehilangan mata pencaharian jika tidak mampu beradaptasi.
Pemkot Jogja menyebut akan ada program pendampingan dan pelatihan. Namun detail teknis dan jadwal implementasi hingga saat ini masih terus dibahas bersama para pemangku kepentingan.