YOGYAKARTA — Kinerja ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan akselerasi signifikan di awal tahun ini. Berdasarkan data BPS DIY, total nilai ekspor selama empat bulan pertama 2026 mencapai 206,8 juta dolar AS, dengan kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 99,06 persen.
Secara bulanan, performa April 2026 juga mencatatkan lonjakan. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai 68,86 juta dolar AS, atau meningkat 77,33 persen dibandingkan April 2025.
Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan, komoditas utama ekspor DIY masih didominasi produk manufaktur. Pakaian dan aksesorinya bukan rajutan menjadi primadona dengan pangsa 30,93 persen dari total ekspor selama Januari–April 2026.
"Komoditas penting lainnya adalah pakaian dan aksesorinya rajutan, plastik dan barang dari plastik, barang dari kulit samak, serta perabotan, lampu, dan alat penerangan," kata Endang dalam keterangan resmi di Yogyakarta, Kamis.
Dari sisi pasar tujuan, Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi produk-produk DIY. Nilai ekspor ke AS mencapai 91,05 juta dolar AS, setara 44,02 persen dari total ekspor.
Australia menempati posisi kedua dengan nilai ekspor 27,68 juta dolar AS, disusul Jerman sebesar 17,68 juta dolar AS. Ketiga negara ini secara kumulatif menyerap hampir dua pertiga total ekspor DIY pada periode tersebut.
Di sisi lain, nilai impor DIY pada Januari–April 2026 tercatat sebesar 50,72 juta dolar AS. Angka ini turun 22,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 65,53 juta dolar AS.
Penurunan impor terutama dipicu oleh berkurangnya pembelian bahan baku dan barang penolong. Sektor ini masih menjadi komponen terbesar dalam struktur impor DIY, dengan porsi mencapai 88,90 persen dari total impor.
"Sebanyak 88,90 persen total impor DIY merupakan bahan baku dan barang penolong yang digunakan untuk mendukung aktivitas industri dan produksi," pungkas Endang.