DENPASAR — I Nyoman Sunarta mencontohkan penataan kawasan Malioboro yang menggunakan pohon asam sebagai elemen utama penghijauan. Menurutnya, langkah ini terbukti fungsional dalam menciptakan suasana kota yang lebih sejuk dan nyaman bagi pejalan kaki, bahkan di tengah pusat keramaian.
Dalam kajiannya, Sunarta menjelaskan bahwa pemilihan jenis vegetasi tidak boleh sembarangan. Pohon asam dinilai memiliki sejumlah keunggulan spesifik untuk wilayah urban.
Berdasarkan riset yang dilakukan Sunarta pada 2018, perubahan lahan hijau menjadi beton dan bangunan permanen berdampak signifikan pada suhu lingkungan. Material bangunan cenderung menyimpan energi panas dari sinar matahari lebih lama.
Kondisi inilah yang menyebabkan suhu di pusat kota terasa jauh lebih menyengat dibandingkan area pinggiran yang masih banyak ditanami pohon. Tanpa langkah mitigasi, kenyamanan tinggal di kawasan perkotaan Bali, khususnya Denpasar, dikhawatirkan akan terus menurun.
Sunarta menegaskan bahwa program penghijauan kembali adalah langkah paling sederhana namun efektif untuk menekan kenaikan suhu. Namun, ia memperingatkan agar pemerintah tidak asal memilih tanaman.
"Program penghijauan kembali atau revegetasi adalah langkah paling sederhana namun efektif untuk menekan kenaikan suhu. Meski demikian, pemilihan jenis tanaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan agar manfaatnya maksimal," ujar Sunarta.
Ia menyarankan agar pemerintah melibatkan para ahli biologi dan pakar lingkungan dalam menentukan jenis vegetasi. Hal ini bertujuan memastikan tanaman yang dipilih sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan ekologis jangka panjang.
Konsep menanam pohon asam sendiri merupakan warisan tata kota dari zaman kolonial Belanda yang dihidupkan kembali di Yogyakarta. Kehadiran ruang hijau yang tertata rapi diharapkan mampu mengembalikan daya tarik Bali sebagai destinasi wisata yang sejuk dan asri bagi generasi mendatang.