DI YOGYAKARTA — Vice President Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga acuan BBM RON 92 global saat ini bergerak di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Angka ini jauh melampaui harga jual eceran di dalam negeri yang masih berada di bawah level tersebut.
“Harga keekonomian RON 92 di pasar internasional sudah sangat tinggi. Ini jelas berdampak pada beban subsidi dan kompensasi yang harus ditanggung,” ujar Sigit dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (15/4).
Pertamina selama ini menjual BBM RON 92 dengan harga yang disubsidi pemerintah. Artinya, setiap liter yang terjual, perusahaan menanggung selisih antara harga jual dan harga pokok penjualan. Semakin tinggi harga minyak mentah global, semakin besar pula beban yang harus dipikul.
Kondisi ini diperparah oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Harga BBM global yang dipatok dalam dolar AS menjadi lebih mahal saat dikonversi ke rupiah.
Jika harga keekonomian terus melambung, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual di pompa atau memperbesar anggaran subsidi. Kedua opsi sama-sama berisiko. Kenaikan harga BBM bisa memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Sementara memperbesar subsidi berpotensi mengganggu kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pertamina sendiri terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Keuangan untuk mencari solusi. Sigit menambahkan, perseroan akan tetap menjalankan tugas sebagai badan usaha milik negara untuk menjaga pasokan energi nasional.
“Kami akan memastikan distribusi BBM bersubsidi tetap lancar sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah,” tegasnya.