Prosesi Jamasan Tombak Kyai Turunsih di Sleman: Pengingat Welas Asih di Tahun Baru Jawa dan Islam

Penulis: Kemal Batubara  •  Senin, 13 Juli 2026 | 16:56:31 WIB
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengikuti prosesi Jamasan Tombak Kyai Turunsih di Sleman.

SLEMAN — Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menekankan bahwa prosesi jamasan merupakan bagian dari pelestarian warisan budaya sekaligus penghormatan terhadap pusaka yang menjadi simbol pengayoman bagi masyarakat.

"Terima kasih kepada para abdi dalem, dan semua pihak, yang telah membantu dalam pelaksanaan jamasan pusaka ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan diberikan kelancaran dalam menjalankan ketugasan kita dalam rangka menyejahterakan warga masyarakat Kabupaten Sleman," kata Danang dalam keterangan tertulis.

Filosofi Turunsih: Kasih Sayang yang Turun

Menurut Danang, nama Turunsih memiliki makna "turunnya rasa kasih sayang". Filosofi tersebut menjadi pengingat bagi pemimpin maupun masyarakat agar mengedepankan nilai welas asih, saling menghormati, serta membangun kehidupan yang harmonis.

Tombak Kyai Turunsih juga memiliki pamor Beras Wutah yang melambangkan Kabupaten Sleman sebagai salah satu lumbung beras di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nilai agraris ini diharapkan tetap dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

Introspeksi Diri di Awal Tahun Baru

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Ishadi Zayid, mengatakan masyarakat sebaiknya tidak hanya memandang prosesi jamasan sebagai kegiatan seremonial atau sekadar membersihkan pusaka. Ritual ini mengandung pesan moral yang mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri.

"Jamasan itu ada nilai filosofinya. Kalau pusaka dibersihkan, maknanya masyarakat juga diajak untuk menyucikan diri. Di awal Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam kita melakukan introspeksi diri agar kehidupan ke depan semakin baik," kata Ishadi saat dihubungi, Senin (13/7/2026).

Doa Bersama untuk Keberkahan dan Gotong Royong

Ishadi menjelaskan, jamasan juga menjadi doa bersama agar masyarakat Sleman senantiasa hidup rukun, menjaga semangat gotong royong, serta memperoleh keberkahan dan rezeki yang melimpah pada tahun mendatang. Nilai tersebut sejalan dengan berbagai tradisi masyarakat seperti merti dusun, sedekah bumi, hingga pelestarian alam yang masih dijaga di berbagai wilayah Kabupaten Sleman.

Sejarah Pusaka Kyai Turunsih

Tombak Kyai Turunsih merupakan pusaka resmi milik Pemerintah Kabupaten Sleman yang dianugerahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 15 Mei 1999, bertepatan dengan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Sleman. Bersamaan dengan itu, Pemkab Sleman juga menerima pusaka Duwajong Mega Ngampak sebagai satu kesatuan anugerah.

Prosesi jamasan dilaksanakan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau Muharam dalam kalender Hijriah. Tradisi ini menjadi bentuk perawatan sekaligus pelestarian pusaka agar nilai sejarah dan budaya yang dikandungnya tetap terjaga dari generasi ke generasi.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top