20 Negara Hadiri Konferensi Kakao Internasional di Yogyakarta, Gunungkidul Jadi Andalan Utama

Penulis: Indra Firmansyah  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 11:51:31 WIB
Konferensi Kakao Internasional Indonesia ke-9 di Yogyakarta dihadiri perwakilan dari 20 negara pada akhir Juli 2026.

YOGYAKARTA — Untuk pertama kalinya dalam sembilan edisi, konferensi kakao tingkat dunia tidak digelar di Bali. Daerah Istimewa Yogyakarta dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi Kakao Internasional Indonesia (IICC) ke-9 pada akhir Juli 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Eko Nugroho mengatakan, acara ini merupakan seminar internasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO).

"Tahun ini ada kegiatan dari ASKINDO di akhir Juli nanti akan digelar seminar tingkat internasional yang diikuti perwakilan dari sekitar 20 negara," katanya di Yogyakarta, Senin.

Gunungkidul: Lumbung Kakao yang Mulai Dikenal Dunia

Kabupaten Gunungkidul menjadi sorotan utama dalam konferensi ini. Daerah tersebut dinilai memiliki potensi kakao terbaik di DIY, mulai dari luas areal perkebunan hingga produk olahan bernilai tambah yang dikembangkan kelompok tani.

"Mereka mulai melirik Yogyakarta, harapannya ini menjadi barometer bahwa tingkat internasional pun datang ke Yogyakarta untuk melihat potensi kakao yang ada di sini," ujar Eko.

Ia menjelaskan, delapan edisi sebelumnya IICC selalu berlangsung di Bali. Penunjukan DIY sebagai tuan rumah tahun ini menjadi pengakuan atas kualitas kakao lokal.

"Alhamdulillah, tahun ini dipercaya diselenggarakan di Yogyakarta," imbuhnya.

Dark Chocolate 70 Persen: Primadona dari Lereng Nglanggeran

Salah satu produk yang paling diminati konsumen adalah dark chocolate dengan kandungan kakao 70 persen. Cita rasa pahit dan kadar gula rendah membuatnya menjadi favorit.

"Dark chocolate 70 persen menjadi pilihan bagi konsumen yang tidak ingin mengonsumsi terlalu banyak gula," kata Eko.

Untuk memperluas jangkauan pasar, DPKP DIY gencar mempromosikan produk olahan kakao melalui berbagai kegiatan, seperti Festival Cokelat 4.0 yang digelar di Gunungkidul. Strategi pemasaran juga dilakukan dengan menitipkan produk di pusat oleh-oleh strategis.

Stok Cokelat Kini Tersedia di Bandara hingga Rest Area

Pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan sentra produksi di Nglanggeran. Produk olahan kakao sudah dititipkan di sejumlah toko oleh-oleh khas Yogyakarta, termasuk di Bandara Yogyakarta International Airport.

"Bahkan beberapa produk sudah masuk di toko oleh-oleh Bandara," ujar Eko.

Selain bandara, produk juga tersedia di rest area dan kawasan strategis seperti kawasan Bunder, Gunungkidul. Dengan begitu, wisatawan tidak perlu naik ke perbukitan Nglanggeran hanya untuk membeli cokelat.

"Harapan kami, ketika wisatawan datang ke Gunungkidul, mereka tidak harus naik ke Nglanggeran untuk membeli cokelat karena di jalur utama juga sudah tersedia," pungkasnya.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top