Pameran Passage di IFI Yogyakarta Jadi Jembatan Candrani Yulis Tampil di Lyon Biennale 2026

Penulis: Kemal Batubara  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 19:36:31 WIB
Pengunjung mengamati karya instalasi dalam pameran tunggal Passage di IFI Yogyakarta, Selasa (14/7).

YOGYAKARTA — Pameran tunggal Passage tidak sekadar memajang karya seni. Bagi Candrani Yulis, ini adalah panggung persiapan menuju Lyon Contemporary Art Biennale 2026, salah satu ajang seni kontemporer paling bergengsi di Eropa.

Pameran ini berlangsung di IFI Yogyakarta sebagai bagian dari Jogja Art Week. Pengunjung dapat datang gratis dari Senin hingga Sabtu, pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

Karya yang Menggugat Tradisi dan Tubuh Perempuan

Candrani Yulis dikenal dengan praktik seni yang mempertanyakan ingatan, keyakinan, dan tubuh perempuan melalui simbol dan ikonografi. Ia menggunakan pengalaman hidup dan keseharian sebagai lensa untuk menyelidiki persinggungan sejarah pribadi dengan sistem politik, budaya, dan spiritual.

Salah satu karyanya, In the Name of Love, mengangkat isu keperawanan dalam masyarakat patriarkal. Karya ini mempertanyakan ekspektasi sosial dan kontrol terhadap tubuh perempuan.

Karya lain, The World We Have Lost, merefleksikan Gowok—tradisi pendampingan bagi laki-laki menjelang pernikahan dalam budaya Jawa yang kini mulai memudar. Sementara Second Skin, yang diciptakan selama residensi di Paris, membandingkan cara pandang masyarakat Eropa dan Indonesia terhadap kulit.

Kurator: Seni sebagai Ruang Refleksi Kritis

Kurator Farah Wardani menekankan bahwa praktik seni Candrani berakar pada penyelidikan, bukan kemarahan atau perlawanan langsung. Menurutnya, Passage adalah undangan untuk berdialog.

"Passage adalah undangan untuk berpartisipasi dalam dialog yang sedang berlangsung—penegasan peran seni sebagai ruang untuk refleksi kritis dan pertumbuhan kolektif," tulis Farah dalam siaran pers yang diterima Suara Jogja, Selasa (14/7).

Jembatan Menuju Panggung Dunia

Selain merayakan pencapaian Candrani, Passage juga bertujuan memperkenalkan "+E Program". Program ini memungkinkan seniman Indonesia untuk berpartisipasi dalam Lyon Biennale, membuka lebih banyak peluang bagi seniman Yogyakarta untuk go international.

Pameran ini merupakan hasil kemitraan antara Institut Français d'Indonésie dan Ellipse Art Projects, dua lembaga yang konsisten menjembatani seniman Indonesia ke kancah global.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: jogja.suara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top