JAKARTA — Pergerakan rupiah kembali menunjukkan tren positif di tengah tekanan global. Berdasarkan data perdagangan Rabu pagi, mata uang Garuda terapresiasi 0,12 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091 per dolar AS menjadi Rp18.070 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut sentimen utama penguatan ini berasal dari eksternal. "Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.105 per dolar AS, dipengaruhi faktor global melandainya inflasi AS dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS," jelasnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan tingkat inflasi tahunan pada Juni 2026 hanya mencapai 3,5 persen. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar dan turun signifikan dibandingkan posisi Mei 2026 yang berada di 4,2 persen.
Penurunan tajam harga energi menjadi pendorong utama. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tercatat turun 0,4 persen secara bulanan, setelah sebelumnya naik 0,5 persen pada Mei. Adapun inflasi inti tahunan melambat ke 2,6 persen dari 2,9 persen pada bulan sebelumnya.
Rully Nova menambahkan bahwa landainya inflasi juga didorong oleh faktor geopolitik. "Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak bulan Juni saat dijalankannya gencatan senjata AS dan Iran," ujarnya.
Penurunan harga energi ini langsung berdampak pada obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) obligasi AS menurun seiring memudarnya ekspektasi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, pelaku pasar masih bersikap wait and see menjelang pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Keputusan suku bunga acuan dinilai menjadi sinyal penting bagi arah pergerakan rupiah ke depan.
"Dalam rapat RDG nanti diperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen," kata Rully. Sikap hati-hati ini dinilai wajar mengingat tekanan inflasi domestik yang relatif terkendali dan stabilitas nilai tukar yang perlu dijaga.