YOGYAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membagikan kisah unik di balik kariernya saat menjajal tradisi Masangin di Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta. Saat itu, ia masih menjabat Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves).
Purbaya mengaku awalnya skeptis dengan mitos yang melegenda di kalangan masyarakat Jogja itu. Namun, tantangan dari tukang becak yang mengantarnya membuat ia penasaran untuk mencoba.
"Nah waktu itu tukang becaknya bilang, kalau bapak tutup mata, jalan terus bisa berakhir (melewati) di tengahnya, apa yang bapak inginkan bisa tercapai. Oh yang bener? Ya sudah saya coba," kata Purbaya menirukan percakapannya.
Ia pun menutup mata, berjalan lurus di antara dua pohon beringin kembar sambil berdoa dalam hati. "Ya saya tutup mata, saya jalan, terus apa, coba? (Dalam hati berdoa) 'jadi menteri, jadi menteri, jadi menteri, jadi menteri.' Sampai di tengah, wah bener nih, kayaknya gua jadi menteri nih," kenang Purbaya yang disambut gelak tawa hadirin.
Setelah pengalaman itu, Purbaya mengaku tidak lagi memikirkan doa yang sempat dipanjatkannya. Jalur kariernya saat itu dinilai jauh dari kursi menteri — ia berkecimpung di bidang maritim, tidak memiliki hubungan politik, dan sebelumnya bertugas di belakang layar Bank Indonesia.
"Padahal (dulu mikir) mana mungkin (jadi menteri). Jalurnya jauh, saya di maritim dulu, hubungan politik nggak ada sama sekali, dan di BI juga di belakang," terangnya.
Namun, pada 8 September 2025, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Menteri Keuangan. Purbaya menyebut pengalaman itu menjadi pelajaran berharga hingga kini.
Masangin merupakan tradisi yang sudah ada sejak Kesultanan Yogyakarta berdiri. Dikutip dari laman visitingjogja.jogjaprov.go.id, ritual ini awalnya dilakukan bersamaan dengan tradisi Topo Bisu setiap malam 1 Suro.
Saat itu, para prajurit dan abdi dalem mengelilingi benteng Keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian melewati dua beringin kembar sebagai simbol memohon berkah dan perlindungan. Dari tradisi tersebut kemudian berkembang mitos Masangin yang populer hingga kini.
"Tapi itu memberi contoh, bahwa hal yang masa lalu, yang untung boleh kita ambil lah," pungkas Purbaya.