DI YOGYAKARTA — Setelah serangkaian langkah agresif menarik arus modal asing dan menstabilkan rupiah, pelaku pasar kini menantikan sinyal fase berikutnya dari strategi moneter Bank Indonesia. RDG Agustus 2026 menjadi momen yang dinanti untuk membaca arah komunikasi otoritas, bukan hanya keputusan angka suku bunga itu sendiri.
"Menurut kami, fokus pasar pada RDG Agustus bukan lagi sekadar apakah BI-Rate naik atau ditahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Bank Indonesia menjelaskan langkah berikutnya setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir," ujar Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi perhatian utama. Dalam beberapa bulan terakhir, SRBI berperan besar menarik kembali modal asing dan menjaga rupiah. Namun, dengan kondisi pasar keuangan yang membaik, investor mulai mencari kepastian kapan proses normalisasi instrumen ini dilakukan.
Pasar ingin tahu apakah BI mulai melihat ruang untuk bertransisi dari fase penyerapan likuiditas menuju normalisasi. "Ini penting karena akan mempengaruhi perbankan, pasar obligasi, dan biaya pendanaan secara keseluruhan," kata Fakhrul.
Dua isu lain yang tak kalah disorot adalah pandangan BI terhadap nilai tukar rupiah dan prioritas arus modal masuk. Rupiah memang jauh lebih stabil dibandingkan periode tekanan di kuartal kedua, tetapi risiko global seperti tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, ketidakpastian geopolitik, dan harga energi masih membayangi.
"Pasar akan membaca dengan sangat hati-hati bagaimana Bank Indonesia menggambarkan kondisi rupiah saat ini. Apakah fokus utama masih mempertahankan stabilitas nilai tukar atau mulai bergeser untuk mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi," jelas Fakhrul.
Pertanyaan serupa muncul soal strategi capital inflow. Berbagai insentif telah diperkenalkan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik. Kini, investor ingin tahu apakah fokus tersebut dipertahankan atau bergeser ke isu pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi. "Fase pertama adalah mendapatkan kembali kepercayaan investor global. Fase berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat," tuturnya.
Isu keempat yang dicermati adalah pembacaan BI atas likuiditas perbankan. Beberapa pekan terakhir, pemerintah dan otoritas mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat likuiditas sistem perbankan dan mendorong penyaluran kredit. Pelaku pasar akan mengamati apakah BI mulai melihat ruang mengurangi tekanan likuiditas yang menjadi konsekuensi strategi stabilisasi rupiah.
RDG bulan depan juga berlangsung di tengah kondisi global yang tidak sederhana. Inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang mereda, dan pasar yakin Federal Reserve akan menahan suku bunga. Namun, yield obligasi pemerintah AS jangka panjang tetap tinggi, sehingga biaya modal global belum turun signifikan.
Perlambatan ekonomi China yang ditandai lemahnya permintaan kredit dan konsumsi rumah tangga juga berpotensi memengaruhi prospek ekspor dan harga komoditas Indonesia. Dalam situasi ini, komunikasi BI dinilai sama pentingnya dengan keputusan kebijakan itu sendiri.