SLEMAN — Fenomena gangguan emosional pada remaja di Sleman mulai terpetakan lewat deteksi dini yang digencarkan Dinas Kesehatan. Hasilnya, dari 18.845 anak yang menjalani skrining, tidak sedikit yang menunjukkan gejala gangguan mental, mulai dari depresi ringan hingga kecemasan berat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila mengungkapkan, selain depresi, skrining juga mencatat 5,25 persen anak mengalami gejala kecemasan ringan serta 2,06 persen gejala kecemasan berat. Temuan ini menjadi dasar bagi pemkab untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas.
Meningkatnya temuan kasus gangguan mental berbanding lurus dengan data kasus bunuh diri di wilayah hukum Sleman. Hingga pertengahan Agustus, tercatat 15 kasus bunuh diri, meningkat signifikan dibanding total 7 kasus sepanjang tahun lalu.
Seruni menyebut kasus tersebut mencakup warga lokal maupun penduduk sementara dengan latar belakang masalah keluarga hingga jeratan ekonomi. Meski begitu, pihaknya menegaskan situasi ini tidak masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Proses skrining tidak dilakukan sembarangan. Dinkes Sleman menggunakan metode Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) standar Kementerian Kesehatan yang berisi 15 pertanyaan, kemudian ditindaklanjuti oleh tim kesehatan jiwa Puskesmas, dokter terlatih, hingga psikolog.
Selain instrumen standar, Sleman juga melengkapi deteksi dengan teknologi pemantauan Heart Rate Variability (HRV). Seruni menegaskan, data yang muncul bukan karena kasus kesehatan mental tiba-tiba melonjak drastis, melainkan karena kemampuan mencari kasus secara lebih aktif dibanding sebelumnya.
Skrining tidak hanya menyasar kesehatan jiwa. Dinkes Sleman juga memetakan risiko gaya hidup lain, termasuk 4,14 persen anak usia pemula yang terdeteksi mulai aktif merokok.
Fenomena gangguan emosional pada remaja disinyalir terpengaruh oleh tingginya paparan informasi di media sosial yang memicu distraksi mental. "Fenomena gangguan emosional pada remaja disinyalir terpengaruh oleh tingginya paparan informasi di media sosial yang memicu distraksi mental," kata Seruni.
Menekan risiko gangguan psikologis pada remaja, Pemkab Sleman tidak hanya mengandalkan layanan kesehatan. Penguatan ketahanan keluarga dan pola pengasuhan yang seimbang menjadi kunci utama yang diimbau kepada orang tua.
Orang tua diminta peka dan berkala memeriksa penggunaan media digital serta aktivitas luar rumah anak. Salah satu langkah konkret yang telah dibuat adalah program Peran Ayah (Program GASA) dari DP3AP2KB.
Melalui Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA), ayah didorong lebih aktif berkomunikasi agar anak terbiasa berkonsultasi kepada keluarga ketimbang meluapkan masalah di media sosial atau mencari solusi lewat platform kecerdasan buatan (AI).
Pemkab Sleman merespons kondisi ini melalui penguatan deteksi dini serta penyediaan layanan penanganan kesehatan jiwa yang berjejaring di seluruh puskesmas secara gratis. Masyarakat diimbau langsung memanfaatkan fasilitas tersebut jika mendapati gejala gangguan psikologis pada anggota keluarga.
"Kami juga mengimbau masyarakat langsung memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan mental di puskesmas terdekat jika mendapati gejala gangguan psikologis pada anggota keluarga," katanya.