AI Connect Jogja: Bukan Mesin yang Menggantikan Manusia, Melainkan Manusia yang Menguasai AI

Penulis: Indra Firmansyah  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:42:02 WIB
Pegiat teknologi Yogyakarta menegaskan bahwa kunci menghadapi AI terletak pada kecakapan manusia dalam menguasai teknologi, bukan pada kecanggihan mesin.

YOGYAKARTA — Kekhawatiran bahwa Artificial Intelligence (AI) akan mengambil alih pekerjaan manusia terjawab sudah. Para pegiat teknologi Yogyakarta menegaskan, kuncinya bukan pada kecanggihan mesin, melainkan pada kecakapan manusia dalam menguasai dan memanfaatkan AI secara bijak.

YOGYAKARTA — Isu AI yang disebut-sebut bakal mengambil alih peran manusia di dunia kerja tengah hangat diperbincangkan. Di tengah kekhawatiran itu, pegiat teknologi Yogyakarta justru mengajak publik menyiapkan kecakapan baru, bukan rasa takut.

Awang Dhewangga, Business Community Lead AI Connect Jogja, meluruskan anggapan yang berkembang. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu, bukan pesaing.

"Untuk menyederhanakan definisi tersebut, AI itu sebuah tools atau kendaraan. Kalau kita menggunakan dengan baik tentu akan selamat, tapi sebaliknya kalau kendaraan tersebut dengan salah maka kita sendiri yang celaka," ujarnya dalam talk show "Merdeka di era AI" di Star FM, Kamis (20/08/2026).

Critical Thinking Jadi Pembeda Utama Manusia dan AI

Awang menjelaskan, manusia tidak mungkin tergantikan oleh AI karena memiliki kemampuan mengasah critical thinking dan decision making. Kedua kemampuan ini berpijak pada cara berpikir kontekstual dan melibatkan elemen emosi yang tidak dimiliki AI.

Pekerjaan yang membutuhkan penilaian kompleks dan empati tetap menjadi ranah manusia. AI hanya bekerja berdasarkan data dan pola yang ada, sementara manusia bisa melompat keluar dari pola tersebut.

Literasi Digital Kunci Menangkal Hoaks dan Manipulasi Informasi

Kekhawatiran lain yang mengemuka adalah potensi AI menghasilkan berita bohong atau memanipulasi informasi. Satria Agung Nugraha, Pengembang Teknologi AI, menekankan literasi digital sebagai tameng utama.

"Karena di literasi digital kita akan mengenal pilar tentang kesiapan atau skill kita menggunakan digital tersebut. Jadi dengan seperti itu kita bisa menguasai teknologinya tetapi juga mampu memfilter sesuai dengan budaya kita," tambahnya.

Satria menilai tantangan terbesar penggunaan AI justru terletak pada melemahnya kemampuan berpikir kritis penggunanya. Jika pilar-pilar literasi digital dipahami dengan baik, konsep berpikir seseorang akan tetap tajam meskipun dibantu oleh alat.

"Artinya AI bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai pelengkap kita dan membuat kita tentunya lebih cakap dan lebih bisa berkreasi lebih baik," ungkapnya.

Pesan Bakesbangpol DIY: Jangan Lupakan Jati Diri Bangsa

Nur Samsi Mualifah, Sekretaris Bakesbangpol DIY, mengakui penggunaan AI sudah tidak bisa dihindari di era digital ini. Namun, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat masyarakat melupakan nilai-nilai yang tertanam.

"Dalam memanfaatkan AI, kita jangan sampai lupa dengan nilai-nilai bangsa, jati diri bangsa," pungkasnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi harus berjalan beriringan dengan filter budaya dan moral. Dengan begitu, AI bisa menjadi alat untuk memajukan kreativitas, bukan justru menjadi boomerang yang merugikan penggunanya sendiri.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top