Pos Kamling di Jogja Bukan Sekadar Tempat Ronda, Wali Kota Sebut Jadi Ruang Srawung Warga dan Cegah Konflik

Penulis: Galih Prayoga  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:36:31 WIB
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyapa warga saat kunjungan malam di pos kamling, Sabtu (22/8/2026).

JOGJA — Pos kamling di Kota Jogja bertransformasi menjadi simpul komunikasi warga yang strategis. Lewat kunjungan malam yang rutin dilakukan, Pemkot Jogja menjadikan gardu ronda sebagai sarana menjaring aspirasi sekaligus alat deteksi dini berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan interaksi yang terjalin di pos kamling mampu memperkuat kewaspadaan bersama. Menurutnya, keamanan kota tidak hanya ditentukan aparat, tetapi lahir dari kepedulian warga terhadap lingkungan sekitarnya.

"Keberadaan pos kamling tidak sekadar sebagai sarana ronda malam, tetapi menjadi ruang srawung masyarakat untuk bertukar informasi dan memperkuat kewaspadaan bersama," kata Hasto di Jogja, Sabtu (22/8/2026).

Deteksi Dini Konflik dan Serapan Aspirasi Warga

Hasto menjelaskan komunikasi yang terjalin baik antarmasyarakat menjadi modal penting mempertahankan kondisi kota yang kondusif. Dengan rutin bertukar informasi, berbagai persoalan sosial di lingkungan bisa diketahui lebih awal.

Persoalan yang terdeteksi sejak dini diharapkan segera diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Lewat forum ronda malam ini pula, Pemkot Jogja menyerap langsung keluhan dan usulan warga mengenai pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Jadi Bahasan Utama

Selain keamanan, isu pengelolaan sampah berbasis masyarakat turut menjadi bahasan dalam kunjungan tersebut. Hasto menegaskan persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi butuh keterlibatan aktif masyarakat.

Warga diharapkan mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga. Salah satu praktik pengolahan yang berjalan adalah di Kelurahan Semaki yang fokus mengolah sampah organik rumah tangga.

Lurah Semaki Markhistun Nadhiroh menyebut pengolahan dilakukan menggunakan tabung lodong sisa dapur atau Losida. Pada bagian bawah tabung ditempatkan cacing yang membantu mempercepat proses penguraian sampah organik.

Hasil penguraian tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi kompos. Dengan begitu, sampah rumah tangga dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top