DI YOGYAKARTA — Ledakan kebutuhan data untuk AI, cloud, dan data center bikin infrastruktur kabel bawah laut jadi tulang punggung masa depan internet Indonesia. Namun, pembangunan jalur baru bukan sekadar soal teknologi—justru birokrasi dan tumpang tindih kepentingan di laut yang jadi ganjalan terbesar.
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Kartika Listriana menegaskan laut Indonesia bersifat multi-use. Area yang sama bisa dipakai untuk pelayaran, perikanan, migas, tambang, konservasi, sampai pariwisata—belum lagi jalur kabel telekomunikasi yang harus masuk di antara semua itu.
Tanpa penataan yang jelas, risiko yang muncul serius: tumpang tindih lahan, konflik pemanfaatan, kabel putus, sampai proses koordinasi yang molor berbulan-bulan. "Melalui kolaborasi juga. Jadi kan kita itu sekarang tidak bisa bergerak hanya pemerintah," ujar Kartika di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, Nusa Dua, Rabu (26/8).
Sebenarnya pemerintah sudah menyiapkan peta jalan lewat Kepmen KP Nomor 14 Tahun 2021. Koridor kabel bawah laut nasional itu mencakup 217 segmen, 209 landing point, dan empat lokasi landing station SKKL internasional.
Aturan ini dibuat untuk memberi kepastian jalur bagi operator dan investor. Tapi masalahnya, proses perizinan yang berjalan berurutan dari satu kementerian ke kementerian lain bikin waktu tunggu investor makin panjang.
Pembangunan kabel laut di Indonesia melibatkan banyak pihak: KKP, Komdigi, Kemenhub, KLHK, ESDM, Kementerian Pertahanan, Pushidrosal, pemerintah daerah, sampai operator. Kalau prosesnya tetap sekuensial—satu per satu—time-to-market investor bakal kalah saing dengan negara tetangga.
Pemerintah kini mendorong pendekatan baru dari sektoral-sekuensial menjadi multisektoral-simultan. Artinya, semua izin diproses barengan, bukan antre. "Rata-rata mereka itu biasanya concern dalam konteks perizinan, efektif efisiennya itu," kata Kartika soal masukan investor.
Dorongan membenahi birokrasi ini bukan tanpa alasan. Ekonomi digital Indonesia sudah mencapai USD 109 miliar pada 2025, dan angkanya diprediksi terus naik seiring adopsi AI di berbagai sektor. Investasi infrastruktur kabel laut juga bertambah, termasuk perluasan jaringan Indonesia Cable Express (ICE) dan sejumlah rute baru yang sedang direncanakan.
Posisi geografis Indonesia yang strategis di jalur lintas dunia sebenarnya jadi nilai jual utama. Pasar domestik yang besar juga bikin negeri ini tetap menarik buat investor. "Kita yakin, karena memang market-nya besar, dan lokasi kita itu strategis. Dan kita potensial juga dari sisi ruang. Sehingga kita harus yakin bahwa kita bisa," pungkas Kartika.
Buat industri gaming dan esport di Indonesia, kabar ini penting. Ping rendah (low latency) yang diandalkan para pemain kompetitif—baik di Mobile Legends, Valorant, sampai Dota 2—sangat bergantung pada infrastruktur kabel laut yang sehat. Kalau perizinan makin cepat, rute kabel baru bisa segera dibangun, dan koneksi ke server Singapura atau Hong Kong bisa makin stabil.