Festival Mustika Rasa 2026 di Yogyakarta Hadirkan 1.000 Resep Warisan Bung Karno, Wali Kota Hasto Soroti Pencegahan Stunting

Penulis: Hendri Saputra  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:05:31 WIB
Ribuan pengunjung memadati Alun-Alun Selatan Yogyakarta pada pembukaan Festival Mustika Rasa 2026 yang menampilkan 1.000 resep warisan Presiden Soekarno.

Sekitar 100 stan UMKM memadati Alun-Alun Selatan Yogyakarta dalam Festival Mustika Rasa 2026 yang digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu, 29-30 Agustus 2026. Acara ini bertujuan menghidupkan kembali buku warisan Presiden Soekarno yang memuat 1.000 resep Nusantara, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal non-beras. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani, menilai buku tersebut menjadi bukti nyata perhatian seorang presiden terhadap detail kebutuhan rakyatnya.

YOGYAKARTA — Ribuan resep khas dari berbagai daerah di Indonesia yang terdokumentasi dalam buku Mustika Rasa kembali digaungkan lewat Festival Mustika Rasa 2026. Acara yang berlangsung di Alun-Alun Selatan Yogyakarta ini tak sekadar pameran kuliner, melainkan upaya menafsir ulang warisan pemikiran Presiden Soekarno tentang ketahanan pangan.

Wiryanti Sukamdani menjelaskan, buku yang disusun pada era 1960-an itu bukan sekadar kumpulan resep masakan. Di dalamnya terdapat panduan detail mengenai bahan makanan, kandungan gizi, teknik memasak, hingga cara memotong bahan, yang menunjukkan kecermatan seorang kepala negara dalam memikirkan hajat hidup orang banyak.

"Seorang presiden memikirkan detail rakyatnya. Semua bisa mengambil menu dari situ. Ada 1.000 menu dari buku itu, jadi sangat luar biasa banyak dan kayanya Indonesia," kata Wiryanti di sela acara, Sabtu (29/8).

Mengangkat Bahan Lokal Selain Beras

Salah satu pesan utama yang coba disampaikan dalam festival ini adalah penguatan diversifikasi pangan. Wiryanti menegaskan, kekayaan bahan pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi, sukun, porang, hingga jagung harus terus diangkat agar masyarakat tidak bergantung pada satu sumber karbohidrat saja.

"Kami ingin masyarakat kita mengapresiasi bahan-bahan yang ada di Indonesia. Kami berikan referensi juga bagaimana memasak yang sehat, enak, dan relevan bagi generasi muda," ujarnya.

Semangat ini kemudian diterjemahkan ke dalam ajang yang menghadirkan ragam makanan tradisional, kuliner langka Nusantara, produk fesyen, hingga kerajinan lokal dari para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Resep Bersejarah untuk Jawab Masalah Gizi Kekinian

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut baik upaya pengenalan kembali resep-resep dalam Mustika Rasa. Menurutnya, dokumentasi sejarah ini tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu, melainkan harus diadaptasi untuk menjawab kebutuhan kontemporer, khususnya terkait pemenuhan gizi masyarakat.

Hasto secara spesifik mengaitkan resep-resep tradisional tersebut dengan upaya pencegahan stunting di wilayahnya. Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya membahas teori, tetapi langsung mempraktikkan pengolahan bahan pangan lokal yang kaya nutrisi.

"Jangan hanya bicara teori, resep ini harus kita praktikkan langsung untuk mengatasi stunting," tegas Hasto.

Menghidupkan Kembali Memori Kolektif Nusantara

Festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal cita rasa yang mungkin sudah jarang ditemui. Kehadiran puluhan UMKM tidak hanya menjadi ajang transaksi jual-beli, tetapi juga medium edukasi publik tentang kekayaan gastronomi Indonesia yang pernah diinventarisir langsung oleh Bung Karno.

Lewat kegiatan semacam ini, resep-resep yang nyaris terlupakan diharapkan bisa kembali menjadi bagian dari dapur keluarga Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top