Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menggelar Festival Babad Siti Kemantren di 14 kemantren pada 31 Agustus 2026. Masuk rangkaian Peringatan Hari Keistimewaan, ajang tahun keempat ini tak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan pengembangan potensi wilayah.
YOGYAKARTA — Sebanyak 14 kemantren di Kota Yogyakarta akan menggelar Festival Babad Siti Kemantren secara serentak pada 31 Agustus 2026. Memasuki tahun keempat, festival ini dirancang untuk memperkuat narasi sejarah sekaligus mendorong kemandirian ekonomi wilayah.
"Babad Siti Kemantren tidak hanya diarahkan sebagai agenda pelestarian kebudayaan, tetapi juga sebagai ruang membangun kolaborasi dan mengembangkan potensi wilayah," kata Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Yetti Martanti, Minggu.
Yetti menjelaskan, penguatan narasi sejarah dan budaya diharapkan mampu membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenali potensi di lingkungannya. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi daya tarik yang mendukung ekonomi kreatif, produk lokal, kemitraan, hingga aktivitas berbasis pengalaman atau experience-based tourism.
"Dengan demikian, Babad Siti Kemantren 2026 tidak hanya mengajak masyarakat mengenang masa lalu, tetapi menjadikan sejarah dan budaya sebagai pijakan untuk membangun masa depan wilayah yang lebih mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar pada identitas sejarahnya," ujarnya.
Setiap kemantren di Yogyakarta memiliki karakter dan cerita yang berbeda. Mulai dari tradisi, cerita rakyat, hingga warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Perbedaan ini justru menjadi kekuatan yang membentuk mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta secara utuh. "Setiap wilayah memiliki karakter dan cerita yang berbeda, sekaligus menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta," kata Yetti.
Melalui festival ini, Dinas Kebudayaan ingin mengemas sejarah dan budaya setiap wilayah dengan storytelling yang menarik dan komunikatif. Pendekatan ini dipilih agar sejarah terasa lebih hidup dan dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
"Kami ingin memperkuat narasi sejarah dan budaya di setiap wilayah sekaligus mengemasnya melalui storytelling yang menarik dan komunikatif, sehingga sejarah menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat," jelasnya.
Festival ini melibatkan berbagai unsur melalui pendekatan pentahelix, yaitu pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci agar festival tidak berhenti sebagai perayaan seremonial, tetapi berdampak nyata pada penguatan ekonomi lokal.
Dengan melibatkan pelaku usaha dan lembaga pendidikan, festival diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan produk lokal dan kemitraan jangka panjang. Masyarakat diajak berperan aktif mengenali sekaligus memasarkan potensi wilayahnya masing-masing.
Festival Babad Siti Kemantren menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan warga Yogyakarta. Ajang ini sekaligus menjadi wadah untuk menampilkan identitas budaya yang hidup di tengah dinamika kota.