PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta merancang pembangunan area hubungan intermoda di sisi selatan Stasiun Yogyakarta untuk menghubungkan perjalanan kereta api dengan moda transportasi lanjutan seperti Trans Jogja, taksi daring, hingga becak listrik. Langkah ini merupakan respons atas pertumbuhan volume penumpang yang menembus 13,4 juta orang sepanjang semester I 2026.
YOGYAKARTA — Stasiun Yogyakarta akan memiliki area khusus untuk perpindahan antarmoda di sisi selatan. Rencana ini tengah dirancang PT KAI Daop 6 untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang kian bergantung pada moda berbasis rel.
Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menyebut pengembangan kawasan tersebut tidak hanya menyambungkan antararmada kereta api, tetapi juga menghubungkan stasiun dengan transportasi lanjutan.
"Kami ingin penumpang tidak hanya mendapatkan layanan perjalanan kereta api yang baik, tetapi juga kemudahan ketika tiba di stasiun maupun saat akan memulai perjalanan (seamless)," kata Feni di Yogyakarta, Senin.
Stasiun Yogyakarta memiliki peran strategis karena melayani empat jenis layanan berbasis rel sekaligus, mulai dari kereta api jarak jauh (KAJJ), KRL Commuter Line Yogyakarta-Palur, Commuter Line Prameks, hingga KA Bandara YIA. Dengan hadirnya area intermoda, penumpang yang turun dari moda rel dapat langsung berpindah ke Trans Jogja, taksi daring, ojek daring, maupun becak listrik pada titik-titik tertentu.
Gagasan pembangunan area intermoda ini berangkat dari catatan pertumbuhan penumpang yang signifikan. Sepanjang semester I 2026, jumlah pelanggan di wilayah Daop 6 mencapai 13,4 juta orang, terdiri atas 6,9 juta penumpang KAJJ, 5,2 juta penumpang Commuterline, dan 1,3 juta penumpang KA bandara.
Rata-rata volume penumpang harian tercatat 38.122 orang untuk KAJJ, 26.332 penumpang KRL, dan 7.420 penumpang KA bandara. Angka ini disebut Feni sebagai sinyal positif bahwa kereta api semakin diandalkan masyarakat sebagai moda utama.
"Pertumbuhan volume penumpang di tiap moda transportasi di Stasiun Yogyakarta ini menjadi sinyal positif bahwa masyarakat semakin mengandalkan kereta api. Konektivitas di Stasiun Yogyakarta menjawab kebutuhan masyarakat akan integrasi antarmoda dari titik utama Kota Yogyakarta menuju berbagai wilayah strategis," ujarnya.
Kemudahan aksesibilitas di kawasan stasiun tidak hanya berhenti pada urusan transportasi. Feni menilai integrasi antarmoda turut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi sektor kuliner, perdagangan, UMKM, hingga jasa pariwisata di sekitar Yogyakarta.
"Integrasi antarmoda tidak hanya memberikan kemudahan bagi penumpang, tetapi juga berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat. Semakin mudah mobilitas, semakin besar pula peluang bagi aktivitas ekonomi di sekitar kawasan stasiun untuk tumbuh," pungkas Feni.