Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul menyiapkan pemanfaatan awal Taman Budaya Bantul (TBB) di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, untuk kegiatan seni dan budaya mulai 2027. Langkah ini berjalan seiring target penyelesaian pembangunan tahap pertama kawasan pada akhir tahun ini.
BANTUL — Kawasan Taman Budaya Bantul (TBB) di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, bakal mulai diisi aktivitas seni pada tahun depan meski pembangunan fisiknya belum tuntas. Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Bantul menyiapkan pemanfaatan awal lahan seluas sekitar lima hektare itu untuk event berskala kecil.
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Yanatun Yunadiana mengatakan, pada tahap awal TBB dapat dipakai untuk pentas seni tradisional seperti jatilan dan pertunjukan sederhana lainnya. "Untuk acara kita bisa lakukan di situ tahun depan, tapi acaranya acara kecil-kecilan," katanya di Bantul, Minggu.
Pembangunan TBB dilakukan bertahap. Tahap pertama berlangsung sejak April hingga Desember 2026 dengan konsentrasi utama pada pematangan lahan dan infrastruktur dasar kawasan.
Kondisi lahan yang sebelumnya tidak rata dan sebagian berupa jurang membuat pekerjaan ini menyerap biaya besar. "Sebagian besar untuk meratakan lahan, membuat jalan, karena biayanya besar sekali untuk uruk itu, karena itu jurang dulu," ujar Yanatun.
Selain pematangan lahan, proyek yang masuk proyek strategis Kabupaten Bantul 2026 dengan pendanaan Rp20,73 miliar ini mencakup pembangunan gapura, tengara atau landmark, kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT), pasar seni, penataan lanskap depan, pos keamanan, dan fasilitas pendukung lain.
Sejalan dengan pembangunan fisik, pemerintah daerah mulai menyiapkan struktur organisasi UPT yang kelak bertanggung jawab mengelola kawasan. Pembentukan pengelola dinilai penting agar fasilitas yang mulai tersedia tidak berhenti sebagai infrastruktur tanpa kegiatan.
"Insya Allah awal tahun besok atau akhir tahun ini nanti struktur organisasi UPT-nya sudah ada, sudah jalan," kata Yanatun.
UPT Taman Budaya dirancang memiliki kebutuhan organisasi dan sumber daya manusia lebih besar dibanding sejumlah UPT lain di tingkat kabupaten. Kepala UPT direncanakan setingkat kepala bidang, didukung kepala subbagian dan sejumlah kepala seksi. "Ini butuh sumber daya yang cukup lumayan besar, termasuk personel yang mengisi di situ," ujarnya.
Disbud Bantul tidak hanya menyiapkan TBB sebagai panggung pertunjukan. Kawasan di dataran tinggi ini dirancang menjadi ruang interaksi seniman, komunitas, dan masyarakat.
Salah satu rencana konkret adalah kolaborasi dengan Forum Seni Rupa Bantul untuk menggelar pameran dan lokakarya melukis. Karakter kawasan di ketinggian dinilai memberi nuansa berbeda bagi kegiatan seni rupa sekaligus daya tarik bagi pengunjung.
Karena itu, area kuliner dan ruang informal turut direncanakan. "Seniman, terutama seniman seni rupa, itu kan senang kegiatan nonformal. Mereka bisa di situ ngopi sambil melukis, sambil ngobrol," kata Yanatun.
Dengan konsep yang memadukan kebudayaan dan pariwisata, TBB diproyeksikan menjadi ruang pengembangan seni sekaligus penopang ekonomi kreatif masyarakat Bantul. Pemanfaatan bertahap ini diharapkan membuat kawasan mulai hidup sebelum seluruh pembangunan rampung.