Ford CEO Jim Farley Wanti-wanti AS Soal Mobil China, Sebut Eropa Sudah Terlambat

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:52:01 WIB
CEO Ford Jim Farley berbicara dalam konferensi Automotive News mengenai masuknya pabrikan mobil China ke pasar Amerika Serikat.

DI YOGYAKARTA — Ford CEO Jim Farley meminta Amerika Serikat berhati-hati menyikapi masuknya pabrikan mobil China ke pasar domestik. Ia menyebut Eropa sebagai contoh buruk karena industri otomotifnya sudah kewalahan diterjang impor China. Farley menilai sudah terlambat bagi negara-negara Eropa untuk membendung gempuran tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Jim Farley dalam sebuah konferensi yang digelar Automotive News. Menurut laporan Reuters, ia menekankan bahwa Amerika Serikat perlu mempertimbangkan secara matang bagaimana dan apakah pabrikan China boleh masuk ke pasar Negeri Paman Sam.

Farley menyoroti tekanan besar yang dialami industri otomotif Eropa setelah produk China dengan cepat menguasai pangsa pasar di sana. Ia menyebut kawasan itu kini berada di posisi sulit karena tidak sempat mengambil langkah pengamanan lebih awal.

Peringatan Farley soal Pasar Amerika Serikat

Dalam konferensi tersebut, Farley secara tegas meminta pemerintah AS tidak lengah. Ia menilai masuknya pabrikan China ke pasar Amerika harus melalui pertimbangan yang sangat cermat.

"Kita harus sangat berhati-hati soal bagaimana pabrikan China masuk ke negara kita," ujar Farley, seperti dikutip Reuters.

Ia lantas menyebut Eropa sebagai pelajaran. Menurutnya, negara-negara di kawasan itu sudah terlambat mengantisipasi derasnya impor kendaraan China yang kini menggerus pangsa pasar pabrikan lokal.

Rancangan Undang-undang yang Sedang Digodok di Kongres

Seruan Farley bergema di Senat Amerika Serikat. Sebuah rancangan undang-undang tengah berjalan di Kongres yang melarang pabrikan dengan kepemilikan China di atas 15 persen menjual kendaraan di pasar AS.

Namun, aturan itu memunculkan masalah tersendiri. Sejumlah pabrikan yang sudah beroperasi di Amerika ternyata memiliki keterkaitan kepemilikan dengan entitas China, termasuk Mercedes-Benz. Menurut laporan Reuters, Mercedes-Benz memiliki kepemilikan pasif hampir 20 persen dari entitas China.

Sponsor RUU tersebut menyatakan pembicaraan masih berlangsung untuk memastikan Mercedes-Benz tidak terkena larangan menjual kendaraan di AS. Pembahasan serupa juga dibahas untuk memastikan Volvo Cars, yang mayoritas dimiliki Geely Holding asal China, tetap bisa berjualan di Amerika.

Kontradiksi di Balik Aturan Larangan

Fakta bahwa Mercedes dan Volvo justru dikecualikan memunculkan pertanyaan tentang apa sebenarnya yang dipermasalahkan dalam RUU ini. Jika kepemilikan China dianggap ancaman, maka 20 persen saham Mercedes atau mayoritas Geely di Volvo semestinya menjadi persoalan yang sama.

Yang tampak dipersoalkan bukan asal uang yang mengalir ke kantong China, melainkan apakah kendaraan itu menyandang merek China di kap mesinnya. Pabrikan dengan kepemilikan China tetap boleh berjualan asal tidak memakai lencana China.

China Sudah Melaju dalam Elektrifikasi Truk

Sementara Amerika Serikat masih bergulat dengan aturan, China justru sudah bergerak jauh dalam elektrifikasi armada truk. Data BloombergNEF mencatat penjualan truk listrik China melonjak hampir 80 persen pada paruh pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan itu dipicu melambungnya harga diesel akibat perang AS-Iran dan serangan Ukraina terhadap kilang Rusia. Truk listrik kini diperkirakan menyumbang hampir sepertiga dari seluruh penjualan truk China tahun ini, naik dari hanya 8 persen beberapa tahun lalu.

Sinopec Economics & Development Research Institute memperkirakan konsumsi diesel China turun lebih dari 10 persen tahun ini. Pergeseran itu membantu Beijing melewati guncangan harga minyak sekaligus menekan kenaikan harga di pasar global, meski batu bara masih berperan besar dalam pembangkit listrik negara itu.

Elektrifikasi angkutan jalan raya di China kini menjadi perubahan struktural yang mengubah peta konsumsi energi. Sementara di Amerika, upaya mengganti truk diesel dengan alternatif seperti Tesla Semi justru banyak yang tidak terealisasi.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: jalopnik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top