DI YOGYAKARTA — Kursi roda kendali sinyal otak buatan AiMOGA Robotics menjuarai Mind-Driven Wheelchair Challenge di Global Brain-Computer Interface × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026 di Hangzhou, China. AiMOGA BCI menuntaskan lintasan dalam 2 menit 16 detik, unggul 17 detik atas peserta peringkat kedua. Ajang ini diikuti 415 tim dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Singapura.
Perangkat tersebut memakai electroencephalography (EEG) noninvasif delapan kanal. Pengguna mengenakan headset EEG, lalu memusatkan perhatian pada tombol arah yang tampil di layar. Sistem membaca sinyal otak itu dan menerjemahkannya menjadi perintah maju, mundur, belok kiri, belok kanan, atau berhenti.
Waktu penyelesaian lintasan menjadi indikator utama penilaian dalam kompetisi yang digelar National Healthcare Security Administration of China bersama Pemerintah Provinsi Zhejiang itu. Dari 415 tim peserta, 251 proyek lolos ke babak final. Selain kursi roda, cabang lomba mencakup pengendalian drone, lengan robot, robot berkaki empat, hingga pengetikan dengan sinyal otak.
AiMOGA mengklaim sistemnya punya akurasi pengenalan perintah di atas 95% dengan latensi kurang dari tiga detik. Angka ini berasal dari perusahaan, bukan hasil pengujian independen atau uji klinis yang dipublikasikan.
Teknologi ini menyasar pengguna yang masih sadar dan mampu memahami instruksi, tetapi mengalami keterbatasan gerak tangan maupun tubuh. Segmen yang dibidik mencakup penyandang paraplegia tingkat tinggi, pasien stroke, dan orang dengan gangguan mobilitas lain.
"Pengguna hanya perlu memusatkan perhatian pada tombol arah yang ditampilkan di layar untuk mengendalikan pergerakan kursi roda tanpa menggunakan tangan," jelas Xie Yuyang, Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics, dalam keterangan tertulis.
Xie menambahkan tujuan awal pengembangan produk ini adalah membuka lebih banyak kemungkinan mobilitas bagi kelompok pengguna tersebut. "Tujuan awal kami mengembangkan produk ini adalah untuk memberikan kemudahan dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lainnya," ujarnya.
Untuk penggunaan di luar kompetisi, kursi roda AiMOGA dilengkapi LiDAR dan kamera kedalaman. Keduanya mendukung navigasi berbasis peta serta deteksi dan penghindaran rintangan. Ada pula kendali layar sentuh, tombol berhenti darurat, dan opsi pengambilalihan kendali secara manual.
AiMOGA menyebut ragam opsi kendali itu disiapkan untuk berbagai skenario penggunaan. Fitur penghindaran rintangan berbasis LiDAR dan navigasi peta dinonaktifkan selama kompetisi sesuai aturan. Perusahaan menilai hasil lomba tetap menunjukkan kemampuan sistem menangkap sinyal EEG, mengenali perintah, dan menggerakkan kursi roda pada tugas yang dipertandingkan.
AiMOGA belum merinci harga, jadwal ketersediaan, maupun hasil pengujian klinis kursi roda tersebut. Dua hal itu krusial bagi produk medis yang hendak dipakai di luar arena lomba.
Kemenangan di Hangzhou menunjukkan sistem EEG delapan kanal AiMOGA mampu bekerja pada lintasan terukur. Namun klaim akurasi 95% dan latensi di bawah tiga detik masih perlu diverifikasi lewat pengujian independen. Untuk pasar Indonesia, perangkat semacam ini juga mesti melewati regulasi Kementerian Kesehatan sebelum bisa dipakai pasien.
Sejauh mana teknologi brain-computer interface bergeser dari panggung kompetisi ke ruang rehabilitasi akan bergantung pada hasil uji klinis dan kesiapan produksi massal AiMOGA.