JOGJA — Lurah Sorosutan Muhammad Zulazmi menyatakan Gemati dibentuk untuk memastikan warga dengan gangguan jiwa di wilayahnya tidak luput dari perhatian. Pendekatan yang dipakai bersifat persuasif, mulai dari kunjungan ke rumah, pemeriksaan medis, hingga pengantaran ke rumah sakit.
Menurut Zulazmi, pendampingan semacam itu sebenarnya sudah berjalan sejak lama. Bedanya, kini kegiatan tersebut diwadahi dalam satu gerakan agar pelaksanaannya lebih terarah dan tidak bergantung pada inisiatif perorangan.
"Gemati ini untuk memastikan saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa bisa terdampingi dengan baik," kata Zulazmi.
Pelaksanaan Gemati melibatkan sejumlah unsur di tingkat kelurahan. Selain PSM dan TP PKK Pokja IV, tim menggandeng Relawan Ambulans Jupiter yang beroperasi di kawasan Sorosutan.
Alur penanganannya bertahap. Petugas mendatangi warga yang membutuhkan bantuan, membangun komunikasi agar bersedia diperiksa, lalu mengantar mereka ke rumah sakit untuk asesmen.
Hasil asesmen menentukan bentuk penanganan, apakah cukup melalui rawat jalan atau memerlukan rawat inap. Pendampingan lanjutan diarahkan agar pasien menjalani terapi secara rutin.
Kepatuhan minum obat sesuai anjuran tenaga medis dinilai menjadi kunci menekan risiko kekambuhan. Zulazmi menyebut kondisi warga bisa membaik asalkan intervensi obat berjalan teratur.
"Dengan penanganan yang tepat, kondisi warga dengan gangguan jiwa bisa membaik. Paling tidak, ketika harus mendapatkan intervensi obat secara terus-menerus, obatnya diminum secara teratur sehingga tidak kambuh," ujarnya.
Zulazmi juga menyoroti keterkaitan antara kondisi jiwa dan fisik. Warga yang mengidap penyakit menular seperti tuberkulosis dan HIV, atau penyakit tidak menular seperti diabetes, kanker, dan kardiovaskular, berpotensi menghadapi persoalan kesehatan jiwa.
Sebaliknya, gangguan jiwa dapat memperburuk kondisi fisik, terutama bagi pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang. Karena itu, penanganan kesehatan jiwa tidak bisa dipisahkan dari layanan kesehatan secara keseluruhan.
Pegiat Gemati, Ainy Ihsaniah, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pendampingan justru datang dari lingkungan terdekat pasien. Keterbatasan dukungan keluarga membuat proses pemulihan kerap terhenti di tengah jalan.
Ainy mencontohkan kasus seorang remaja putus sekolah yang mengurung diri dan berulang kali menyakiti diri sendiri. Laporan soal kondisi remaja itu diterima tim setelah yang bersangkutan menyayat tangannya hingga perlu penjahitan luka di RS Jogja.
Tim kemudian bergerak bersama kelurahan, Babinsa, PSM, dan Puskesmas untuk melakukan kunjungan serta pemeriksaan dini. Remaja tersebut lantas dibawa ke RS Hardjolukito dan menjalani rawat inap selama sepekan.
Dalam proses itu, keluarga mendapat edukasi mengenai kemungkinan penempatan remaja di panti sosial agar memperoleh pembinaan lebih lanjut. Namun rencana tersebut batal karena keluarga tidak memberi izin.
Penanganan lanjutan pun tidak berjalan sesuai rencana, dan kondisi remaja tersebut kembali berulang. Kasus ini menjadi gambaran betapa dukungan keluarga menentukan keberlanjutan pemulihan pasien gangguan jiwa.
Kendala serupa tidak hanya muncul saat menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) maupun orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Dalam sejumlah kasus, warga dan keluarga memilih menutup diri ketika pendampingan ditawarkan.
Kondisi itu membuat tim Gemati harus bekerja lebih sabar, membangun kepercayaan dari pintu ke pintu sebelum intervensi medis bisa dilakukan. Pendekatan persuasif dipilih agar warga tidak merasa dipaksa.