YOGYAKARTA — Dian Maula, warga Kota Yogyakarta yang pernah setahun merantau di Jakarta, mengungkap sisi lain cara berkendara pemilik pelat AB yang jarang dibahas di konten media sosial. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di sebuah angkringan pada Rabu (14/10/2025) pagi. Menurut Dian, narasi santun pengendara Jogja hanya menutupi sebagian kebiasaan di jalan.
Romantisasi itu selama ini bertumpu pada beberapa hal. Pengendara pelat AB jarang membunyikan klakson berkali-kali saat lampu apill baru berubah hijau. Mereka juga jarang terlihat menerobos lampu merah atau melewati marka jalan saat berhenti. Kesan tidak grasak-grusuk itu yang kemudian menyebar luas di media sosial.
Kebiasaan yang paling menyebalkan bagi Dian adalah "mak kluwer". Istilah lokal itu merujuk pada pengendara yang keluar dari gang kampung ke jalan raya tanpa berhenti dan tanpa menengok kondisi sekitar.
"Mak kluwer itu ya, misalnya keluar dari gang kampung ke jalan raya nih, si pengendara itu langsung nelonyor (nyelonong) aja. Nggak pakai berhenti dulu, nggak pakai tengok kiri-kanan dulu ada pengendara lain nggak," jelas Dian.
Ketika hendak belok kiri dari gang, pengendara tersebut langsung membelok tanpa memastikan apakah ada kendaraan dari arah belakang. Situasi itu membuat Dian kerap kaget dan buru-buru mengerem. Ia mengaku bukan pengendara lincah yang bisa refleks membanting setang.
Dian juga harus melihat dua arah sekaligus: spion untuk memastikan tidak ada pengendara yang hendak menyalip, dan jalan di depan untuk memastikan tidak ada kendaraan melaju kencang.
"Tapi ya cuma bisa ngedumel tipis. Asu, wong iki piye to karepe. Nggak bisa marah. Kalau ini kebawa kultur pakewuh ala Jogja. Paling-paling cuma bisa nyalip orang tadi sambil melirik tajam," ujar Dian.
Kekhawatiran lain muncul saat pelanggar adalah sesama warga lokal. Dian menyebut kultur warlok di Jogja sangat kuat, bukan hanya soal KTP Jogja versus orang luar daerah, tetapi juga antarwarga Jogja sendiri.
Dalam pengalaman Dian, ia warga Kota Yogyakarta sementara insiden mak kluwer terjadi di wilayah Sleman. Pengendara dari Sleman itu, kata Dian, akan tersinggung jika ditegur.
"Dulu kan pernah viral, orang negur pengendara plat AB pas lawan arah. Mentang-mentang warlok situ, orang yang ditegur malah nyolot dan ngajak geger, to, yang viral "Ha ngopo-ha ngopo" itu loh," ucap Dian.
Daripada berurusan panjang, Dian memilih menggerutu pelan. Baginya, menegur pengendara mak kluwer hanya akan memperpanjang masalah tanpa menyelesaikan apa pun.
Pengalaman serupa juga dialami pengendara pelat K yang berusaha menyesuaikan diri selama di Jogja. Stigma pelat K sebagai pengendara ngawur justru tak sebanding dengan kenyataan di lapangan.
Pengendara pelat AB kerap menyalip dengan kencang dan sangat mepet. Di Jalan Kaliurang pada jam-jam tengah malam, pengendara RX King tancap gas dan saling pepet sambil memutar musik keras.
Salah satu kejadian yang masih diingat terjadi pada pertengahan Agustus 2026. Malam itu, dari arah bawah menuju atas, pengendara hendak menyeberang jalan untuk mampir di sebuah angkringan. Belum tuntas menyeberang, laju kendaraan lain memaksa pengendara itu menahan gas.
Catatan soal cara berkendara pelat AB ini bukan pertama kali muncul. Seorang pengguna Threads dengan akun @ade_age membagikan culture shock sebagai orang Jakarta saat di Jogja. Ia menyoroti pengendara Jogja yang terkesan tidak mau mengalah terhadap orang yang hendak menyeberang dan hanya berhenti jika ada lampu merah.
Kontributor Terminal Mojok, Noor Annisa Falachul Firdausi, juga menulis hal senada lewat artikel berjudul "Jalanan Jogja terlalu diromantisasi, aslinya lebih jahat dari jalanan Jakarta". Dua kesaksian itu, menurut Dian, hanya sebagian kecil dari persoalan yang ia alami sendiri di jalan.