Pencarian

PLN EPI Uji Cofiring Amonia 3 Persen di PLTU Labuan Mulai 2027

Jumat, 02 Oktober 2026 • 08:53:31 WIB
PLN EPI Uji Cofiring Amonia 3 Persen di PLTU Labuan Mulai 2027
PLN EPI menargetkan uji coba cofiring amonia 3 persen di PLTU Labuan pada 2027.

DI YOGYAKARTA — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan uji coba cofiring amonia hingga 3 persen di PLTU Labuan pada 2027, setelah memulai studi pasokan pada 2026. Langkah bertahap ini jadi fondasi teknologi dan rantai pasok sebelum masuk tahap komersialisasi pada 2030. Uji coba ini menentukan kelayakan teknis dan keekonomian amonia sebagai bahan bakar rendah karbon pengganti batu bara.

Paragraf pembuka: Rencana tersebut dipaparkan dalam roadmap pengembangan hidrogen dan amonia PLN EPI di ajang Electricity Connect 2026. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyebut pengembangan amonia sebagai cara memperluas pilihan bahan bakar rendah karbon pada pembangkit listrik yang sudah beroperasi. Namun, ia menegaskan implementasinya butuh kajian menyeluruh karena menyangkut kesiapan teknologi, ketersediaan pasokan, dan keekonomian.

Empat Tahap Menuju Komersialisasi 2030

PLN EPI menyusun peta jalan pengembangan amonia secara bertahap. Tahap pertama adalah studi pasokan amonia pada 2026, dengan Pupuk Kujang Cikampek masuk sebagai salah satu sumber awal yang dikaji.

Pada 2027, PLN EPI berencana menjalankan uji coba skala kecil dengan tingkat cofiring maksimal 3 persen di PLTU Labuan. Hasil uji coba itu akan menjadi basis evaluasi teknis dan studi keekonomian pada 2028.

Setelah evaluasi, PLN EPI menargetkan integrasi rantai pasok amonia pada 2029. Puncaknya pada 2030, perusahaan menyiapkan studi kelayakan penerapan cofiring amonia pada level 3–5 persen atau lebih. Seluruh tahapan ini dirancang untuk membangun fondasi sebelum memasuki fase komersialisasi.

Mengapa Amonia Tidak Bisa Langsung Dipakai

Hokkop menjelaskan, pendekatan bertahap diperlukan karena cofiring amonia menghadapi tantangan berbeda dibanding bahan bakar konvensional. Pembangkit harus dipastikan mampu menerima campuran amonia tanpa mengganggu kinerja operasional.

Faktor keekonomian menjadi penentu utama apakah teknologi ini layak diterapkan dalam skala besar. Pasokan amonia yang stabil dan kompetitif dari sisi harga sama pentingnya dengan kesiapan teknologi pembangkit itu sendiri.

"Untuk amonia, kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya," ujar Hokkop dalam keterangan pers, Kamis (1/10/2026).

Posisi dalam Transisi Energi Nasional

Cofiring amonia menjadi salah satu jalur yang ditempuh PLN untuk menekan emisi dari PLTU yang masih mendominasi bauran energi Indonesia. Teknologi ini memungkinkan pembangkit batu bara eksisting tetap beroperasi dengan campuran bahan bakar yang lebih bersih, tanpa harus membangun pembangkit baru dari nol.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi transisi energi bertahap yang menyeimbangkan target penurunan emisi dengan keandalan pasokan listrik nasional. Keberhasilan uji coba di PLTU Labuan pada 2027 akan menjadi penentu apakah model serupa bisa direplikasi ke pembangkit lain di seluruh Indonesia.

Penutup: Bagi PLN EPI, roadmap ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan taruhan jangka panjang untuk mempertahankan peran PLTU dalam sistem kelistrikan yang semakin ketat standar emisinya. Hasil studi pasokan 2026 dan uji coba 2027 akan menentukan seberapa cepat amonia bergeser dari proyek percontohan menjadi bahan bakar komersial.

Follow jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks