YOGYAKARTA — Keikutsertaan "Desember Jani" di Tokyo menandai langkah film Indonesia dalam kompetisi Asian Future, seksi yang khusus menjaring karya sutradara pendatang baru dari kawasan Asia. Film ini diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, dengan Luna Maya bertindak sebagai produser eksekutif.
Estimasi biaya produksi film tersebut mencapai 747.000 dolar AS atau sekitar Rp13 miliar. Pemutaran perdana di Jepang menjadi panggung internasional pertama sebelum film ini masuk jaringan bioskop Tanah Air.
Cerita Empat Hari yang Mengubah Percakapan Keluarga
"Desember Jani" mengisahkan Jani, anak berusia 13 tahun yang menunggu kepulangan kakaknya, Julia, setelah pergi dari rumah tanpa pamit. Dalam situasi itu, Jani menyalahkan ibunya, Winnie, seorang ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menyimpan rasa bersalah.
Cerita berlangsung selama empat hari pada Desember. Pilihan yang dibuat Jani kemudian mendorong empat perempuan dalam keluarganya membuka percakapan yang selama ini mereka hindari.
Mengapa Cerita Lokal Bisa Menjangkau Penonton Tokyo
Meiske Taurisia menyebut keikutsertaan film ini di Jepang sebagai bukti bahwa cerita berlatar lokal tetap mampu menyentuh penonton dengan latar berbeda.
"Sejak awal kami membuat 'Desember Jani' untuk berbicara kepada penonton di sini (Indonesia), kepada anak, ibu, kakak, adik, dan keluarga yang mungkin pernah mengalami sulitnya memulai sebuah percakapan," kata Meiske.
"Perjalanan ke Tokyo justru menunjukkan bahwa cerita yang sangat lokal juga bisa berbicara kepada penonton dari tempat yang berbeda," ujarnya menambahkan.
Tiga Tahun Mengembangkan Naskah Bersama Cyntha Hariadi
Ariani Darmawan mengembangkan cerita ini selama tiga tahun bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi. Ide berawal setelah Ariani membaca kumpulan cerpen Cyntha berjudul Manifesto Flora.
"Buat saya, yang menarik dari keluarga justru hal-hal kecil yang kita alami setiap hari. Ada rasa sayang, marah, kecewa, gengsi, tetapi kadang kita tidak tahu bagaimana cara mengatakan atau bahkan menghadapinya," kata Ariani.
Cyntha menyebut karakter dalam film ini tidak dibangun sebagai sosok yang sepenuhnya benar ataupun salah. "Desember Jani" sekaligus menjadi debutnya dalam penulisan skenario film panjang.
"Anak bisa merasa tidak didengar, sementara orang tua merasa semua yang dilakukannya adalah untuk keluarga. Keduanya bisa sama-sama menyayangi, tetapi tetap tidak saling memahami," kata Cyntha.
Chempa Puteri hingga Sigi Wimala Isi Jajaran Pemain
Chempa Puteri berperan sebagai Jani, Sigi Wimala sebagai Winnie, Tutie Kirana sebagai Oma, dan Hyori Mika sebagai Julia. Sigi menilai karakter Winnie punya sisi manusiawi karena kasih sayang kepada anak tidak otomatis membuat orang tua tahu cara terbaik menjalankan perannya.
"Winnie sangat manusiawi buat saya. Dia sayang kepada anak-anaknya, tetapi rasa sayang tidak otomatis membuat seseorang selalu tahu cara yang paling tepat untuk menjadi ibu," kata Sigi.
Ariani berharap penonton di Tokyo maupun Indonesia menemukan pengalaman yang dekat dengan kehidupan keluarga mereka sendiri lewat kisah Jani. Jadwal tayang bioskop Indonesia sudah dikunci mulai 10 Desember 2026.