BANTUL — Sebanyak 22 sekolah di Kabupaten Bantul masuk dalam pemetaan awal Disdikpora karena minimnya jumlah peserta didik baru. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya adalah SMP swasta yang hanya mendapatkan siswa antara nol hingga lima orang, sementara 12 lainnya merupakan SD, baik negeri maupun swasta.
Kepala Disdikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto mengatakan pihaknya belum bisa memastikan penyebab pasti sepinya peminat di sekolah-sekolah tersebut. "Ini masih harus kita analisis lagi karena belum diketahui penyebab sekolah tersebut hanya memperoleh beberapa siswa," ujarnya di Bantul, Selasa.
Disdikpora akan menelusuri berbagai faktor, termasuk data dari Dinas Kependudukan untuk mengetahui jumlah anak pada kelompok usia sekolah. Selain itu, pihaknya juga akan mengidentifikasi apakah anak-anak asal Bantul memilih bersekolah di luar daerah atau masuk ke pondok pesantren.
Meski tren penurunan peserta didik terus terjadi, Disdikpora Bantul menegaskan belum mengambil keputusan untuk menggabungkan sekolah atau regrouping. "Saat ini kami masih memetakan kondisi riil masing-masing sekolah dan lingkungannya, sehingga belum ada keputusan mengenai regrouping," kata Nugroho.
Kajian akan mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, serta kebutuhan layanan pendidikan di setiap wilayah. Pihaknya juga akan melihat apakah di suatu wilayah masih terdapat anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan. Setiap rencana regrouping nantinya akan dibahas bersama berbagai pihak sebelum ditetapkan sebagai kebijakan.
Dalam proses pemetaan, Disdikpora mengacu pada ketentuan jumlah maksimal peserta didik per rombongan belajar (rombel), yakni 32 siswa untuk jenjang SMP dan 28 siswa untuk jenjang SD. Setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selesai, pihaknya akan mengkaji lebih dalam sekolah-sekolah yang minim murid.