YOGYAKARTA — Pemerataan layanan jantung di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Dosen Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) UMY, Qurratul Aini, menilai pembangunan infrastruktur seperti ruang kateterisasi jantung atau cath lab kerap berjalan lebih cepat dibandingkan kesiapan sumber daya manusia dan sistem pelayanan di rumah sakit.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kebutuhan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia mencapai 6.801 orang. Namun, realitanya saat ini baru tersedia sekitar 1.639 dokter, artinya terjadi defisit sebanyak 5.162 tenaga medis spesialis. Konsentrasi dokter pun timpang, dengan hampir dua pertiganya berada di Pulau Jawa.
Ketimpangan ini menjadi persoalan struktural. Rumah sakit di luar Jawa yang telah mengadakan alat cath lab berpotensi tidak bisa mengoperasikannya secara optimal karena kekurangan tenaga ahli.
Qurratul Aini menjelaskan, dari sudut pandang manajemen aset, cath lab yang terpasang tanpa tenaga siap pakai berisiko menjadi barang yang tidak produktif. Nilai investasi alat tersebut sangat besar, tetapi kontribusinya terhadap keselamatan pasien menjadi nol jika tidak dapat dioperasikan.
"Cath lab merupakan bagian dari struktur, tetapi tanpa dokter dan tim yang kompeten untuk mengoperasikannya, pelayanan tidak akan berjalan, sehingga tujuan menurunkan angka kematian akibat serangan jantung tidak tercapai," ujar Aini di Yogyakarta, Rabu.
Lebih dari sekadar alat, layanan cath lab memerlukan kerja tim multidisiplin yang lengkap. Rumah sakit tidak hanya butuh dokter spesialis jantung, tetapi juga perawat kardiovaskular bersertifikat, radiografer, teknisi kardiovaskular, dokter dan perawat anestesi, teknisi elektromedis, apoteker klinis, hingga tenaga rehabilitasi medik.
Fasilitas pendukung seperti Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) atau Intensive Cardiovascular Care Unit (ICVCU) juga wajib tersedia. Tanpa ekosistem ini, menurut Aini, layanan tidak akan berjalan berkelanjutan.
Ia menambahkan, rumah sakit yang hanya mengandalkan satu dokter spesialis jantung kerap mengalami kendala operasional ketika dokter yang bersangkutan cuti, berhalangan, atau mengalami kelelahan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu pelayanan pasien, tetapi juga berpotensi memicu masalah retensi tenaga medis.
"Membangun layanan jantung tidak cukup hanya menghadirkan alat, tetapi juga membangun ekosistem SDM dan tata kelola yang mampu menjaga layanan tetap berjalan secara berkelanjutan," tegasnya.
Menurut Qurratul Aini, keberhasilan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia tidak bisa diukur dari bertambahnya jumlah fasilitas cath lab yang terpasang. Indikator yang lebih penting adalah kemampuan rumah sakit dalam menyediakan layanan berkualitas yang dapat diakses masyarakat secara berkelanjutan.
"Hal utama adalah layanan berkualitas yang dapat diakses masyarakat secara berkelanjutan," katanya.