JAKARTA — Anggota Bawaslu RI Puadi mengajak mahasiswa untuk berperan sebagai agen demokrasi dan pengawas partisipatif dalam Pemilu. Ajakan ini disampaikan dalam acara Bawaslu Campus Connect: Generasi Digital, Demokrasi Transparan di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Rabu.
Puadi menekankan bahwa mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi agen literasi digital. Mereka diminta aktif menangkal penyebaran hoaks dan melakukan pengecekan fakta (fact checking) terkait informasi Pemilu.
"Mahasiswa ini juga bukan sekadar pengguna media sosial. Kita berharap mahasiswa ini sebagai agen literasi digital, agen demokrasi, pengawas partisipatif, sekaligus inovator. Bagaimana dia bisa menciptakan berbagai solusi digital bagi pengawasan pemilu ke depannya," kata Puadi saat membuka acara tersebut.
Puadi memaparkan sejumlah langkah konkret yang bisa dilakukan mahasiswa. Selain tidak ikut menyebarkan hoaks, mahasiswa dapat melaporkan dugaan pelanggaran pemilu kepada Bawaslu hingga mengadakan riset berbasis kepemiluan.
Bawaslu juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung sebagai penyelenggara pemilu di berbagai tingkatan. Mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten dan kota.
"Ke depannya mahasiswa UNJ banyak juga yang bisa kita rekrut untuk menjadi penyelenggara, baik di level kelurahan, kecamatan, maupun tingkat kabupaten/kota. Ini bagian dari partisipasi," ujarnya.
Menurut Puadi, kualitas demokrasi Indonesia di masa depan tidak hanya ditentukan oleh regulasi atau kemajuan teknologi. Faktor yang lebih penting adalah kualitas generasi mudanya.
"Saya percaya kualitas demokrasi Indonesia di masa depan itu tidak hanya ditentukan oleh regulasi atau juga teknologi. Tetapi yang lebih penting adalah kualitas generasi mudanya," kata Puadi.
Melalui program Bawaslu Campus Connect, ia berharap bisa melahirkan generasi muda yang melek teknologi, berintegritas, memiliki kepedulian, dan rasa tanggung jawab dalam menjaga demokrasi Indonesia.