Ekonom UMY: Pembukaan Selat Hormuz tak Otomatis Turunkan Harga BBM di Indonesia, Ini Faktor Penentunya

Penulis: Jamal Nasution  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 07:12:32 WIB
Pembukaan Selat Hormuz tidak otomatis menurunkan harga BBM di Indonesia karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain seperti kebijakan OPEC+ dan permintaan global.

YOGYAKARTA — Normalisasi jalur pelayaran strategis Selat Hormuz memang memberikan sentimen positif bagi pasar energi global. Namun, Dyah menegaskan bahwa penurunan harga di tingkat konsumen tidak bisa terjadi secara instan.

Mengapa Harga BBM Tak Langsung Turun?

Dyah menjelaskan bahwa meskipun risiko geopolitik (risk premium) di pasar minyak dunia berkurang, pasar masih memperhitungkan sejumlah faktor lain. "Harga tidak otomatis turun drastis karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain, seperti kebijakan produksi OPEC+, permintaan global, hingga kondisi stok minyak," katanya di Yogyakarta, Selasa.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY itu menyoroti kesalahpahaman umum di masyarakat. Banyak yang mengira peristiwa di satu kawasan akan langsung berdampak pada harga di pompa bensin.

Nilai Tukar Rupiah Jadi Kunci

Dari sekian banyak variabel, Dyah menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagai faktor krusial. Transaksi minyak dunia menggunakan mata uang dolar, sehingga depresiasi rupiah bisa meniadakan manfaat dari penurunan harga minyak mentah internasional.

Pemerintah, lanjut dia, memiliki sejumlah variabel dalam menentukan harga BBM. "Pemerintah dalam menentukan harga BBM turut mempertimbangkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya pengadaan, hingga kontrak perdagangan yang telah berjalan," ujarnya.

BBM Subsidi vs Non-Subsidi: Beda Mekanisme

Dyah membeberkan perbedaan respons harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi. Untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax, perubahan harga relatif lebih cepat mengikuti mekanisme keekonomian pasar.

Sebaliknya, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, pemerintah tetap melakukan intervensi. Langkah ini diambil untuk menahan dampak fluktuasi harga global agar beban fiskal negara tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak tergerus.

Efek Baru Terasa 1-3 Bulan ke Depan

Dampak perubahan harga minyak global terhadap perekonomian nasional tidak terjadi dalam semalam. Dyah menjelaskan bahwa penyesuaian harga di tingkat industri dan logistik biasanya baru akan terlihat setelah satu hingga tiga bulan. Jeda waktu ini bergantung pada stok yang dimiliki perusahaan dan kontrak perdagangan yang telah berjalan sebelumnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap rasional dalam menanggapi dinamika pasar energi global. "Bagi pelaku usaha, terutama di sektor logistik, langkah mitigasi risiko melalui efisiensi operasional dan evaluasi kontrak bisnis jauh lebih penting daripada hanya berfokus pada fluktuasi harga energi harian," kata Dyah.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top