Tradisi Pernikahan Adat DI Yogyakarta yang Masih Dilestarikan, dari Siraman hingga Resepsi

Penulis: Hendri Saputra  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 11:02:31 WIB
Calon pengantin menjalani prosesi siraman dengan air bunga setaman sehari sebelum akad nikah.

Masyarakat Yogyakarta, khususnya di kawasan Kraton dan pedesaan seperti Imogiri atau Kotagede, masih memegang teguh tata cara pernikahan adat. Ini bukan soal gengsi, melainkan warisan leluhur yang dipercaya membawa berkah dan keharmonisan rumah tangga. Seorang teman yang menikah di Bantul tahun lalu bercerita, prosesi dari malam sebelum akad hingga resepsi bisa memakan waktu dua hari penuh. Bukan karena lamanya, tapi karena setiap langkah punya makna yang dalam.

Bagi warga lokal yang akan menikah atau perantau yang pulang kampung, memahami tradisi ini penting. Bukan hanya untuk kelancaran acara, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan budaya. Berikut adalah tujuh tahapan utama yang masih umum ditemui di Yogyakarta.

1. Nontoni dan Lamaran: Awal Perundingan Keluarga

Tahap pertama dimulai dengan nontoni, yaitu kunjungan keluarga calon pengantin pria ke rumah calon pengantin wanita. Tujuannya bukan sekadar "lihat-lihat", melainkan menjajaki keseriusan dan latar belakang keluarga. Biasanya dihadiri oleh orang tua, saudara tertua, atau tokoh masyarakat setempat.

Setelah sepakat, dilanjutkan dengan lamaran atau nembung. Keluarga pria membawa perlengkapan berupa sanggan—biasanya berisi makanan tradisional seperti jadah, wajik, dan pisang raja. Prosesi ini dilakukan di pendopo rumah atau di tempat netral yang disepakati. Tidak ada pesta besar, hanya perundingan yang diakhiri dengan doa bersama.

2. Siraman: Mensucikan Diri Sebelum Akad

Siraman dilakukan sehari sebelum akad nikah, biasanya di pagi atau sore hari. Calon pengantin dimandikan dengan air bunga setaman oleh tujuh orang sesepuh yang dianggap beruntung. Maknanya, membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Di Yogyakarta, prosesi ini sering digelar di halaman rumah dengan ditutup kain putih. Air siraman tidak boleh tumpah ke sembarang tempat—harus dialirkan ke tanah melalui bambu yang sudah disiapkan. Seorang tetangga yang menjadi juru rias pernah bilang, "Banyak calon pengantin menangis saat disiram, bukan karena sedih, tapi karena haru."

3. Midodareni: Malam Terakhir Masa Lajang

Midodareni adalah malam di mana calon pengantin wanita ditemani keluarga dan teman dekat. Kata "midodareni" berasal dari widodari (bidadari), melambangkan kecantikan dan kesucian. Calon pengantin pria diwajibkan datang pada malam itu, tetapi hanya bertemu sebentar dan tidak boleh menginap.

Yang menarik, tamu undangan pada malam midodareni biasanya hanya keluarga inti dan tetangga dekat. Hidangan yang disajikan sederhana: wedang jahe, gorengan, dan jajanan pasar. Tidak ada musik keras atau hiburan. Suasana lebih hening, penuh doa dan nasihat dari orang tua.

4. Ijab Kabul: Puncak Sakral Pernikahan

Akad nikah di Yogyakarta biasanya digelar di rumah mempelai wanita atau masjid. Prosesi ini dipimpin oleh penghulu dari KUA atau tokoh agama setempat. Yang membedakan dengan daerah lain adalah penggunaan sajen atau sesaji, seperti kembang setaman dan kemenyan, meskipun saat ini sudah banyak yang menyesuaikan dengan syariat Islam.

Mempelai pria mengucapkan ijab kabul dalam bahasa Arab, lalu disaksikan oleh dua saksi dan wali nikah. Di beberapa desa di Gunungkidul, tradisi ngunduh mantu langsung dilakukan setelah akad, tanpa jeda panjang. Keluarga besar berkumpul di pendopo, dan pengantin baru duduk di pelaminan yang dihias dengan kain batik dan janur.

5. Panggih: Pertemuan Resmi Pengantin

Setelah akad, rangkaian panggih dimulai. Ini adalah pertemuan resmi antara pengantin pria dan wanita di pelaminan. Dalam tradisi Kraton, pengantin pria harus melempar gantal (daun sirih yang digulung) ke arah pengantin wanita. Jika mengenai, itu pertanda baik.

Ada juga prosesi wijikan—pengantin wanita membasuh kaki suami sebagai simbol penghormatan. Lalu dilanjutkan dengan kacar-kucur, di mana pengantin pria menuangkan beras kuning, kacang hijau, dan uang logam ke kain yang dibentangkan pengantin wanita. Maknanya, suami menyerahkan nafkah lahir batin kepada istri.

Prosesi ini biasanya diiringi gending Jawa dari tetabuhan gamelan. Di Sleman, saya pernah melihat panggih digelar di halaman sawah, dengan latar belakang Gunung Merapi. Sangat fotogenik, tetapi tetap khusyuk.

6. Resepsi: Suguhan untuk Tamu dan Masyarakat

Resepsi atau walimah adalah puncak acara yang melibatkan banyak orang. Di Yogyakarta, tradisi ngunduh mantu biasanya digelar di rumah mempelai pria setelah acara di rumah mempelai wanita selesai. Tamu dijamu dengan hidangan khas seperti gudeg, opor ayam, dan sambal goreng krecek.

Yang unik, tamu tidak duduk di kursi panjang seperti di kota besar. Mereka duduk lesehan di tikar atau karpet, membentuk barisan memanjang. Pengantin dan orang tua berjalan menyusuri barisan untuk bersalaman dan menerima doa. Prosesi ini bisa berlangsung 2-3 jam, tergantung jumlah tamu.

Di wilayah Kulon Progo, resepsi sering digabung dengan pertunjukan seni lokal seperti jathilan atau wayang kulit. Ini menjadi hiburan sekaligus wujud syukur kepada masyarakat yang sudah membantu persiapan pernikahan.

7. Sungkeman: Hormat Terakhir kepada Orang Tua

Sungkeman dilakukan setelah resepsi selesai, atau di sela-sela acara. Pengantin berdua bersimpuh di hadapan orang tua, mencium lutut atau tangan, dan meminta doa restu. Orang tua biasanya menangis, dan suasana haru langsung menyelimuti ruangan.

Tradisi ini tidak pernah ditinggalkan. Bahkan di kalangan kerabat Kraton, sungkeman tetap menjadi momen paling sakral. Seorang abdi dalem yang saya temui di Kotagede mengatakan, "Sungkeman itu bukan formalitas. Ini pengakuan bahwa restu orang tua adalah kunci rumah tangga langgeng."

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua prosesi ini wajib dilakukan?
Tidak semuanya. Keluarga bisa memilih tahapan yang sesuai dengan kemampuan dan keyakinan. Namun, siraman, ijab kabul, dan sungkeman hampir selalu ada.

Berapa biaya menggelar pernikahan adat Yogyakarta?
Biaya bervariasi tergantung jumlah tamu, lokasi, dan dekorasi. Tidak ada patokan pasti. Lebih baik konsultasi dengan penghulu atau wedding organizer lokal untuk estimasi.

Bolehkah pernikahan adat digelar di luar Yogyakarta?
Boleh. Banyak perantau yang tetap menjalankan tradisi ini di Jakarta atau Surabaya. Yang penting adalah pemahaman makna, bukan sekadar replika visual.

Apakah tradisi ini hanya untuk keturunan Kraton?
Tidak. Semua warga Yogyakarta, dari berbagai latar belakang, bisa menjalankannya. Yang membedakan hanyalah tingkat kemewahan dan detail prosesi.

Di mana bisa belajar tata cara pernikahan adat yang benar?
Anda bisa bertanya ke sesepuh desa, penghulu KUA, atau komunitas budaya seperti Taman Budaya Yogyakarta. Banyak juga buku panduan yang dijual di toko buku sekitar Malioboro.

Menjalani pernikahan adat Yogyakarta bukan soal pamer tradisi. Ini soal menghidupkan kembali nilai-nilai yang diajarkan leluhur: kesabaran, penghormatan, dan gotong royong. Bagi warga lokal atau perantau yang pulang kampung, mengikuti prosesi ini adalah cara paling otentik untuk merayakan ikatan baru dengan keluarga dan budaya.

Reporter: Hendri Saputra
Back to top