DI YOGYAKARTA — Paragraf pembuka: Peresmian ini menandai dimulainya pengembangan Lampung sebagai salah satu pusat bioetanol end-to-end, mulai dari budidaya bahan baku hingga validasi teknologi produksi. Fasilitas pilot tersebut dirancang untuk menguji berbagai kombinasi bahan baku dan teknologi, dari pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, sampai dehidrasi.
Peluncuran dihadiri Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan, Direktur Manajemen Risiko Pertamina Ahmad Siddik Badruddin, Dirut Pertamina NRE John Anis, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta perwakilan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan Toyota Tsusho Indonesia (TTI).
Pertamina NRE mengusung pendekatan multi-feedstock dan multi-generation technology, memanfaatkan beragam bahan baku serta teknologi produksi bioetanol generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G). Sorgum masuk daftar bahan baku yang digadang karena siklus panennya dinilai kompetitif.
"Yang menarik dari sorgum ini, selain produktivitasnya, siklusnya juga bisa tiga kali panen dalam setahun," ujar John Anis, Direktur Utama Pertamina NRE.
Pengembangan sorgum di Lampung diarahkan memakai pendekatan multi-generation: nira dipakai sebagai bahan baku bioetanol 1G, sementara batang atau biomassa sisa setelah pengambilan nira diolah menjadi bahan baku 2G. Skema ini disebut dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lokal tanpa membuang residu produksi.
Momentum peluncuran ditandai penandatanganan dua nota kesepahaman. Pertama, Kesepakatan Bersama antara Pertamina NRE dan Pemerintah Provinsi Lampung untuk pengembangan agribisnis, ketahanan energi, dan pangan di Lampung.
Kedua, Nota Kesepahaman antara Pertamina NRE, TMMIN, TTI, dan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit). Kerja sama ini menjajaki potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia, mencakup kajian kelayakan, pengembangan teknologi, dan pertukaran pengetahuan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyebut Lampung memiliki kapasitas 430 ribu kiloliter. Strategi utamanya mencakup reaktivasi aset, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi 1G dan 2G, hilirisasi singkong dan jagung, hingga konversi pabrik.
"Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot Bioethanol Development Center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik, sehingga dapat mendukung ketahanan energi," ujar Todotua, Senin (14/9).
Dari sisi investor, proyek ini menyambungkan sektor pertanian, industri, teknologi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan — kombinasi yang jarang ditemui pada proyek energi konvensional.
Hasil pengujian pada skala pilot akan menjadi dasar technical, economic, and commercial assessment untuk menentukan langkah menuju skala demonstrasi dan komersial. Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan menyatakan dukungannya dan berterima kasih atas dukungan Wakil Menteri Investasi serta Gubernur Lampung dalam pembangunan fasilitas ini.
"Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation," kata John Anis.
Penutup: Bila skema pilot ini terbukti layak secara teknis dan komersial, Lampung berpeluang menjadi lumbung bioetanol pertama di Indonesia yang memadukan sorgum, singkong, dan jagung dalam satu rantai pasok. Target 1 juta kiloliter per tahun masih jauh dari kapasitas 60 kiloliter saat ini, tetapi fasilitas Tegineneng berfungsi sebagai batu uji sebelum Pertamina NRE melangkah ke skala komersial.