YOGYAKARTA — Direktur Program KHFF 2026 Suluh Pamuji menyatakan tema besar "Kontekstualisasi" yang diusung tahun ini menjadi puncak perjalanan kuratorial empat tahun festival. Perjalanan itu dimulai dari Introduksi pada 2023, berlanjut ke Interaksi, lalu Posisi, hingga Kontekstualisasi pada 2026.
Menurut Suluh, sejak awal KHFF tidak ingin berhenti pada urusan melestarikan warisan budaya. Festival ini ingin mendorong heritage sebagai sesuatu yang terus dibaca ulang untuk kepentingan masa depan.
"Kami selalu berorientasi tidak berhenti pada pelestarian, tetapi heritage itu selalu diorientasikan pada masa depan," ujar Suluh.
184 Submission, Tertinggi dalam Empat Tahun
Jumlah karya yang masuk ke KHFF 2026 mencapai 184 film submission. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang empat tahun penyelenggaraan festival.
Dari total tersebut, 27 film terpilih untuk ditayangkan. Rinciannya, 24 film nasional dan tiga film internasional, tersebar dalam delapan program pemutaran serta enam sesi tanya jawab dua arah.
Sebagian besar sineas yang karyanya diputar turut hadir dalam sesi tanya jawab tersebut.
Program Non-Kompetisi hingga Director Talk Wregas Bhanuteja
Selain kompetisi, KHFF 2026 menghadirkan sejumlah program non-kompetisi. Ada Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama.
Festival juga menyiapkan tiga program non-pemutaran. Director Talk "Mistik Melampaui Ketakutan" bersama Wregas Bhanuteja, Heritage Workshop: Stop Motion, serta Heritage Talk "Merawat yang Hidup" bersama kurator Zaki Habibi dan Suluh Pamuji.
Warisan Budaya Dibaca Lewat Sinema
Pendekatan kurasi tahun ini tidak lagi memandang warisan budaya sekadar sebagai objek yang direkam dalam film. Suluh menyebut sinema dipakai sebagai cara membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial.
"Penyelenggaraan tahun ini tidak hanya mencari film yang menampilkan heritage sebagai objek, tetapi juga melihat bagaimana sinema dapat menjadi cara untuk membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial," katanya.
Yogyakarta Penyumbang Terbanyak, Submission Datang dari 21 Provinsi
Film yang masuk berasal dari 21 provinsi di lima wilayah besar Indonesia. Yogyakarta menjadi penyumbang terbanyak dengan 46 film.
Posisi berikutnya diisi Jawa Timur dengan 32 film, Jawa Tengah 30 film, dan Jawa Barat 29 film. Di luar Jawa, submission datang dari Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, sampai Sulawesi Selatan.