DI YOGYAKARTA — PT Pertamina (Persero) menambah kapal pengangkut BBM dari Jawa ke Bali dari tiga menjadi tujuh unit untuk mempercepat pemulihan distribusi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM di Bali kini aman untuk 15 hari, naik dari sebelumnya 11 hari. Penambahan armada itu didukung optimalisasi Fuel Terminal Manggis dan Sanggaran.
Denpasar - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pasokan bahan bakar minyak di Bali sudah pulih signifikan. Cadangan yang semula hanya cukup untuk 11 hari kini mencapai 15 hari setelah Pertamina menggenjot pasokan dari Jawa.
Percepatan pemulihan itu ditempuh lewat penambahan kapal pengangkut BBM, dari tiga menjadi tujuh unit. Dua fuel terminal utama, Manggis dan Sanggaran, dioptimalkan untuk memperkuat penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran BBM ke seluruh penjuru Pulau Bali.
Bahlil menyebut capaian stok 15 hari itu sesuai target yang ia minta ke Pertamina. "Alhamdulillah, puji Tuhan, untuk di Bali sudah bisa teratasi. Tadi saya minta Pertamina untuk menaikkan status yang tadinya 11 hari menjadi 15 hari, dan sore ini sudah tercapai. Jadi stok kita di Bali aman 15 hari," ujarnya, Senin (19/10).
Gubernur Bali I Wayan Koster mengonfirmasi perbaikan layanan di lapangan. Sejak Sabtu dan Minggu, suplai ke SPBU berjalan lancar dan antrean pembeli BBM jauh berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Sejak Sabtu dan Minggu, suplai ke SPBU secara umum berjalan lancar dan antrean sudah tidak banyak lagi," kata Koster.
Pemerintah Provinsi Bali masih memberlakukan sejumlah pengaturan aktivitas masyarakat untuk menekan konsumsi BBM selama masa pemulihan. Kebijakan bekerja dari rumah dan pembelajaran daring tetap berjalan, sementara pengisian BBM berdasarkan nomor kendaraan ganjil-genap diperpanjang hingga 23 Oktober 2026.
Aturan ganjil-genap itu dapat dievaluasi lebih awal bila kondisi lapangan membaik lebih cepat. "Kami di daerah akan membantu pelaksanaan tugas Pertamina di lapangan," ujar Koster.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan kelancaran pasokan energi menjadi prioritas perusahaan, terutama karena Bali bertumpu pada sektor pariwisata dan UMKM. "Kami meyakini bahwa energi adalah denyut nadi dari perekonomian, khususnya di Pulau Bali, untuk membantu sektor pariwisata, UMKM, termasuk aktivitas ekonomi lainnya," ujarnya.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan penguatan pasokan tidak berhenti di SPBU. Kargo Pertamax didatangkan dan jadwal pengiriman tambahan disiapkan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan di Pertashop.
"Tidak hanya pasokan di SPBU, pasokan untuk Pertamax di Pertashop pun akan kita maksimalkan," kata Ega.
Di luar Bali, Pertamina menyesuaikan pola pengangkutan BBM mengikuti kondisi geografis. Pendangkalan sungai akibat cuaca di sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera membuat kapal besar sulit bersandar, sehingga jalur darat dioptimalkan sebagai alternatif.
Secara nasional, Bahlil memastikan ketahanan stok BBM tetap terjaga. Cadangan Pertalite berada di kisaran 16-18 hari, sedangkan jenis BBM lain di atas 20 hari. "Secara cadangan nasional tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Sekarang distribusinya yang kita perlancar," ujarnya.
Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang sempat dialami masyarakat Bali selama proses pemulihan. Perusahaan juga mengapresiasi dukungan Pemprov Bali, Forkopimda, Kodam Udayana, dan Polda Bali dalam pengaturan layanan SPBU hingga penguraian antrean.
Pemulihan distribusi di Bali menjadi ujian bagi rantai pasok Pertamina yang bertumpu pada pengiriman laut dari Jawa. Ketergantungan itu membuat gangguan cuaca atau lonjakan permintaan di daerah tujuan langsung terasa di nozzle SPBU, dan jadi pekerjaan rumah yang harus diantisipasi menjelang lonjakan konsumsi berikutnya.