YOGYAKARTA — Sebanyak 65 praktisi wellness dan 32 artisan dari 13 kota dan daerah akan mengisi rangkaian JCWF 2026. Pengunjung bisa mengikuti yoga, latihan pernapasan, tari dan gamelan, lokakarya seni, diskusi kesehatan mental, hingga pengenalan jamu dan rempah Nusantara.
Festival juga menghadirkan Wellness Artisan Market yang terbuka gratis untuk umum. Sebanyak 14 program tidak dipungut biaya, sedangkan program lainnya mengikuti ketentuan tiket dan reservasi.
Ketua BPPD DIY GKR Bendara menyebut pemilihan November sebagai langkah menghidupkan pariwisata pada periode low season. Pendekatan itu sekaligus menciptakan permintaan baru bagi pelaku usaha lokal.
"Budaya adalah ruh yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF, kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat pelaku usaha lokal," ujar GKR Bendara dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10).
Festival mengusung filosofi Jawa seperti hamemayu hayuning bawana serta sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh sebagai landasan. Tema RECONNECT mengajak masyarakat kembali terhubung dengan diri sendiri, sesama, alam, dan budaya.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menilai wellness tourism dapat memperkuat pariwisata berkualitas. Potensi DIY tidak hanya pada destinasi populer, tetapi juga pengalaman budaya seperti membatik, mempelajari seni tradisi, menikmati gastronomi, dan meracik jamu.
"Banyak hal dari DIY yang bisa dikembangkan dalam wellness, mulai dari budaya sampai kuliner. Harapannya, wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di DIY, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh hotel, restoran, desa wisata, dan pelaku usaha lokal," kata Ellya.
Dampak ke masyarakat diupayakan lewat pengelolaan sampah yang melibatkan Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul. Sampah plastik diolah menjadi kerajinan, sementara sisa makanan dimanfaatkan untuk budidaya maggot sebagai pakan ayam.
Telur yang dihasilkan kemudian disalurkan ke posyandu, menghubungkan pengelolaan sampah dengan kebutuhan warga. Lurah Guwosari Masduki Rahmad menyebut kolaborasi itu melibatkan pekerja kebersihan setempat.
"Setiap sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Kami berharap kolaborasi ini berdampak pada kebersihan, keberlanjutan, dan ekonomi masyarakat," ujar Masduki.
Penyelenggara merencanakan kompensasi jejak karbon melalui penanaman pohon. Pengunjung diajak membawa tumbler, memanfaatkan fasilitas pengisian air minum, menggunakan transportasi umum, dan memilah sampah.
Pada 6 November, JCWF akan menggelar Pentahelix Forum yang mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, praktisi wellness, dan pelaku industri pariwisata. Forum itu menjadi ruang menjajaki kerja sama lintas sektor.
Bagi pelaku usaha, partisipasi 32 artisan membuka jalan memperkenalkan produk kuliner sehat, produk lokal, perawatan diri, karya kreatif, dan barang berkelanjutan. Nilai transaksi dan dampak ekonominya baru diketahui setelah kegiatan berlangsung.