YOGYAKARTA — Inovasi pemupukan kelapa sawit yang lebih presisi dan efisien kini hadir lewat kolaborasi INSTIPER Yogyakarta, BGA, dan BPDP. Traktor otonom yang dikembangkan mampu mendeteksi tanaman sawit dengan akurasi 98 persen menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan navigasi presisi.
Ketua Tim Riset INSTIPER Yogyakarta, Rengga Arnalis Renjani, menjelaskan traktor ini dirancang dengan sistem intermittent atau pemberian pupuk secara terukur sesuai kebutuhan tanaman. Berbeda dari spreader konvensional yang menebar pupuk terus-menerus, traktor otonom ini hanya menyebar pupuk tepat di pohon sawit.
“Traktor ini dilengkapi AI yang mampu mengenali pohon kelapa sawit. Traktor ini lebih presisi karena pupuk tidak ditebar setiap saat seperti spreader pada umumnya. Namun, pupuk ini dapat ditebar tepat ke pohon sawit,” ujar Rengga.
Hasilnya, kapasitas kerja melonjak signifikan menjadi 30 hektare per hari. Selain menghemat biaya Rp 56.553 per hektare, traktor ini juga mengurangi losses pupuk yang sering terjadi pada metode manual atau spreader biasa.
Teknologi ini didanai melalui program Grant Riset Sawit 2024 dari BPDP. Pengembangan dilakukan di Kebun BGA Region 3, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang menjadi lokasi uji coba sekaligus peluncuran perdana.
Rengga menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya menekan biaya operasional perkebunan, tetapi juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan. Pemberian pupuk yang tepat sasaran mengurangi limbah dan dampak lingkungan.
Biaya pemupukan merupakan salah satu komponen terbesar dalam budidaya sawit. Dengan traktor otonom ini, penghematan bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan untuk perkebunan skala besar. Teknologi intermittent juga memastikan pupuk tidak terbuang di area non-produktif.
Ke depan, tim riset INSTIPER berencana mengembangkan fitur tambahan seperti monitoring jarak jauh dan integrasi data real-time. Hal ini diharapkan semakin memudahkan manajer perkebunan dalam mengelola pemupukan secara efisien.