DI YOGYAKARTA — Laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang dikutip Euronews, Senin (1/6), mencatat pengurangan impor minyak, gas, dan batu bara menjadi kunci penurunan biaya energi Eropa. Pada 2025, total impor produk energi Uni Eropa tercatat 336,7 miliar euro dengan volume 723,3 juta ton. Dibandingkan tahun sebelumnya, nilai impor anjlok 11,1 persen, sementara volumenya hanya turun tipis 0,6 persen.
Di sisi lain, investasi di energi terbarukan justru melesat. Uni Eropa menggelontorkan 105 miliar dolar AS atau sekitar 90 miliar euro untuk menggenjot kapasitas panel surya dan turbin angin. Strategi ini mulai menuai hasil: sektor kelistrikan Eropa menjadi yang paling kebal terhadap gejolak harga energi global.
Tenaga surya menjadi sektor paling menonjol. Produksi listrik dari panel surya di Uni Eropa menembus 340 TWh, setara dengan seluruh konsumsi listrik tahunan Portugal. Angka ini naik lebih dari 60 TWh dibanding tahun sebelumnya, menjadikan energi surya menguasai 12,5 persen dari total bauran listrik kawasan.
Lembaga kajian energi Ember menyebut transisi energi Eropa mulai membuahkan hasil nyata. "Penghematan 60 miliar dolar AS dari bahan bakar fosil tahun lalu akan terlampaui oleh penghematan tahun ini ketika harga minyak, gas, dan batu bara melonjak," kata juru bicara Ember kepada Euronews Earth. Momentum ini semakin kuat pada April 2026, ketika tenaga angin dan surya untuk pertama kalinya menghasilkan listrik lebih banyak daripada gas secara global dalam satu bulan penuh—22 persen berbanding 20 persen.
Marin Gillot, analis energi di Strategic Perspectives, menegaskan pergeseran paradigma ini. "Energi bersih tidak lagi hanya soal iklim. Ini juga strategi ekonomi dan geopolitik," ujarnya. Menurut Gillot, semakin cepat Eropa meninggalkan bahan bakar fosil, semakin kecil risiko warga dan dunia usaha terkena guncangan harga akibat konflik global.
Catatan penting dari Ember: capaian angin dan surya yang melampaui gas masih bersifat bulanan, belum tahunan. April menjadi bulan ideal karena musim semi di belahan bumi utara membawa angin kencang dan sinar matahari melimpah, sementara permintaan listrik lebih rendah. Meski begitu, tren ini menunjukkan energi bersih mulai memberikan dampak ekonomi yang konkret bagi Uni Eropa.