Rupiah Tembus Rp 17.864 per Dolar AS, Ini Kurs Terbaru BCA, Mandiri, dan BNI

Penulis: Kemal Batubara  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 10:52:01 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp 17.864 per dolar AS pada awal pekan ini.

DI YOGYAKARTA — Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut pada awal pekan ini. Depresiasi rupiah terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS di pasar global, yang membuat mata uang negara berkembang kesulitan untuk mengimbangi pergerakan greenback.

Selisih Kurs di Tiga Bank Nasional

Bagi pelaku bisnis dan investor yang hendak melakukan transaksi valuta asing (valas), perbedaan kurs jual dan beli di perbankan menjadi acuan utama. Berikut adalah kurs dolar AS yang berlaku di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) per pukul 09.38 WIB.

BCA menawarkan tiga jenis kurs. Untuk transaksi elektronik via e-Rate, posisi beli berada di Rp 17.878 dan jual Rp 17.898 per dolar AS. Sementara itu, untuk transaksi di kantor cabang (TT Counter) dan bank notes, BCA mematok harga beli Rp 17.690 dan jual Rp 17.940 per dolar AS.

Bank Mandiri juga menyediakan skema khusus. Untuk transaksi di atas 25.000 dolar AS, nasabah bisa mengakses Special Rate dengan kurs beli Rp 17.865 dan jual Rp 17.895 per dolar AS. Adapun untuk transaksi reguler melalui TT Counter, Mandiri memasang harga beli Rp 17.640 dan jual Rp 17.940 per dolar AS.

BNI mencatat kurs jual untuk bank notes dan TT Counter di level Rp 17.925 hingga Rp 17.940 per dolar AS. Sementara itu, harga beli di BNI berada di kisaran Rp 17.625 hingga Rp 17.640 per dolar AS.

Fakta Singkat Pergerakan Rupiah Hari Ini

  • Pelemahan rupiah mencapai 0,33% ke level Rp 17.864 per dolar AS.
  • IHSG bergerak kontras dengan menguat ke level 6.217.
  • Selisih (spread) antara kurs beli dan jual di perbankan berkisar antara Rp 20 hingga Rp 300 per dolar AS, tergantung jenis transaksi.

Apa Arti Pergerakan Ini bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Bagi importir, pelemahan rupiah berarti biaya pembelian bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal. Sebaliknya, eksportir bisa mendapatkan keuntungan lebih karena pendapatan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi jika dikonversi ke rupiah.

Investor di pasar saham perlu mencermati sektor-sektor yang sensitif terhadap kurs. Sektor perbankan, misalnya, kerap menjadi barometer karena memiliki eksposur besar terhadap transaksi valas dan surat berharga. Sementara itu, sektor konsumer dan properti biasanya tertekan jika rupiah terus melemah karena biaya impor bahan baku meningkat.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengingatkan bahwa volatilitas rupiah masih akan terjadi seiring dengan ketidakpastian global. Pasar saat ini menunggu langkah intervensi BI untuk menstabilkan kurs di level yang lebih wajar.

Disclaimer: Kurs yang tercantum merupakan kurs indikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu. Nasabah disarankan untuk menghubungi cabang bank terkait untuk mendapatkan kurs pasti sebelum melakukan transaksi.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top