Film Animasi “Garuda di Dadaku” Buktikan Kualitas Animator Lokal, Tembus Shanghai International Film Festival

Penulis: Kemal Batubara  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 19:24:01 WIB
Film animasi "Garuda di Dadaku" menembus kompetisi Shanghai International Film Festival sebagai perwakilan animasi Indonesia.

JAKARTA — Prestasi ini dinilai sebagai tonggak penting bagi industri animasi Tanah Air. Produser film Shanty Harmayn menyebut pencapaian tersebut menunjukkan talenta muda Indonesia terus bertumbuh dan mulai dilirik pasar internasional.

“Ini adalah milestone yang sangat penting bagi animasi Indonesia, ini pertama kalinya layar lebar animasi turut berkompetisi,” kata Shanty seusai acara screening di Jakarta, Kamis.

Dikerjakan 500 Animator dari 5 Kota Termasuk Yogyakarta

Proses produksi film ini melibatkan 17 studio dari seluruh Indonesia, di antaranya Imaji Studio, Manimonki, Leomotions, dan Brown Bag Films Bali. Total 500 animator dikerahkan dari Batam, Yogyakarta, Malang, Bali, Bogor, dan Jakarta.

Pengerjaan animasi memakan waktu tiga tahun hingga akhirnya rilis bertepatan dengan libur sekolah dan perayaan Piala Dunia 2026. Shanty mengatakan format animasi ini dipilih untuk menghidupkan kembali waralaba “Garuda di Dadaku” yang sudah lama melekat di masyarakat.

Cerita Anak Muda Lawan Asma Demi Jadi Pesepak Bola

Film yang disutradarai Ronny Gani ini mengisahkan tokoh Putra yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Namun, ia memiliki keterbatasan kesehatan karena mengidap asma yang kerap menyulitkannya saat berlatih.

Kegigihan Putra melawan penyakitnya dan tekadnya untuk menjadi juara menjadi inti cerita. Film ini juga didukung pengisi suara seperti Keanu Azka, Quinn Salman, Ibnu Jamil, hingga komika Oki Rengga.

Dari Layar Lebar ke Kompetisi Internasional

Versi animasi “Garuda di Dadaku” masuk nominasi kategori animasi di Shanghai International Film Festival melalui undangan distributor internasional. Shanty menilai prestasi ini menjadi bukti kualitas animasi Indonesia semakin diperhitungkan.

“Talenta muda ini membuktikan bahwa kemampuan animasi Indonesia tumbuh lebih baik,” ujarnya.

Sebelumnya, waralaba “Garuda di Dadaku” hadir dalam format live action pada 2009, sekuel kedua pada 2011, dan serial televisi pada 2014–2015. Format animasi menjadi bentuk baru yang diharapkan memberi referensi tontonan segar bagi anak-anak Indonesia.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top