Berbeda dengan kafe di pusat kota yang ramai oleh dentuman musik atau barisan orang bekerja dengan laptop, kedai ini mengusung konsep terbuka yang luas dan sederhana. Area luar dengan deretan meja kayu yang menghadap langsung ke pagar rel menjadi spot paling diincar. Tak jarang, pengunjung harus bersabar untuk mendapatkan meja kosong di dekat pagar besi tersebut.
Menu andalan di sini adalah paket es coklat ukuran sedang yang disandingkan dengan sepotong roti panggang empuk. Minuman ini disajikan dalam cangkir kaleng jadul bermotif lurik hijau-putih, sebuah sentuhan yang berhasil menghadirkan memori masa lalu.
Cara menikmatinya pun unik, mengikuti tren yang ramai di media sosial. Roti disobek terlebih dahulu, lalu dicelupkan agak lama ke dalam es coklat hingga meresap. "Saat gigitan pertama, dugaan awal bahwa tempat ini hanya menjual konsep visual langsung runtuh. Rasanya beneran enak," ujar seorang pengunjung yang ditemui di lokasi. Tipikal coklatnya tidak terlalu manis, meninggalkan sensasi rasa agak pahit dan gurih di akhir. Harga segelas es coklat dibanderol mulai dari Rp8.000-an, angka yang sangat ramah di kantong.
Bagian paling dinanti dari pengalaman nongkrong di sini adalah ketika sirine palang pintu kereta mulai berbunyi. Suara gemuruh roda besi perlahan mendekat, dan satu rangkaian kereta api melintas persis beberapa meter di depan meja pengunjung. Angin berembus kencang dan suaranya bergemuruh bising, namun anehnya momen tersebut justru menciptakan atmosfer santai sekaligus seru.
Orang-orang biasanya refleks mengeluarkan ponsel untuk merekam, sementara sebagian lainnya memilih diam menikmati sisa es coklat sambil memperhatikan ekor kereta yang perlahan menjauh ke arah Solo. Suasana ini menjadi potret santai yang sulit didapatkan di tempat lain.
Kedai ini berlokasi di Jalan Randusari, Klurak Baru, tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan. Waktu terbaik untuk datang adalah sekitar pukul 16.00 WIB ke atas, saat terik matahari mulai mereda dan frekuensi jadwal kereta yang melintas biasanya sedang padat. Perjalanan menuju lokasi pun terbilang menyenangkan, menyusuri jalanan yang searah dengan jalur kompleks candi.
Selain es coklat dan roti panggang, tersedia juga aneka camilan tambahan seperti tahu walik goreng hangat yang cocok dijadikan teman ngobrol. Tempat ini membuktikan bahwa nongkrong di pinggiran kota bisa memberikan kenyamanan lebih dibandingkan keramaian Malioboro atau kafe-kafe modern di pusat Jogja.