DI YOGYAKARTA — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Nunukan, Wahyudi Kawariyin, mengungkapkan bahwa kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan teknis ini menyasar pedagang yang selama ini luput dari pengawasan ketat. Pihaknya menemukan sejumlah kios belum memiliki alat pemadam api ringan (APAR) dan menyimpan BBM dalam jeriken di dekat sumber listrik.
“Ini kita lakukan sebagai langkah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran, khususnya di lokasi yang memiliki tingkat risiko tinggi,” kata Wahyudi dalam keterangannya, Senin (17/3).
Berdasarkan hasil inspeksi di lapangan, petugas menemukan praktik penyimpanan BBM dalam wadah plastik yang tidak standar dan diletakkan berdekatan dengan kompor serta instalasi listrik yang sudah usang. Kondisi ini dinilai sangat rentan memicu percikan api.
Wahyudi menegaskan bahwa sebagian besar insiden kebakaran di Nunukan dipicu oleh kelalaian manusia. “Kebakaran pada dasarnya dapat dicegah apabila masyarakat lebih waspada dan menerapkan langkah antisipasi sejak dini,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, petugas tidak hanya melakukan pemeriksaan, tetapi juga memberikan edukasi langsung mengenai langkah-langkah keselamatan dasar. Pedagang diedukasi untuk mengawasi penggunaan kompor, melakukan perawatan instalasi listrik secara berkala, dan menjauhkan bahan mudah terbakar dari sumber api.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan hal-hal kecil yang berpotensi memicu kebakaran. Sebagian besar insiden kebakaran terjadi akibat kelalaian manusia yang sebenarnya bisa dihindari,” tambah Wahyudi.
Kegiatan inspeksi ini merupakan bagian dari program rutin Damkar Nunukan yang menyasar titik-titik rawan kebakaran. Kawasan pesisir menjadi prioritas karena akses pemadam yang terbatas dan kepadatan bangunan kayu yang mudah terbakar.
Wahyudi berharap pendekatan persuasif ini bisa membangun budaya sadar keselamatan di tengah masyarakat. “Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan potensi bahaya kebakaran di lingkungan masing-masing,” tutupnya.
Damkar Nunukan mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, setidaknya terjadi lima kebakaran yang melibatkan kios BBM di wilayah pesisir. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Inspeksi serupa akan diperluas ke pasar tradisional dan kawasan pergudangan dalam waktu dekat.