BANTUL — Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara menegaskan bahwa sosialisasi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) wajib digencarkan oleh setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) di wilayahnya. Instruksi ini dikeluarkan untuk membangun kewaspadaan warga terhadap cuaca ekstrem yang diprediksi melanda dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut Agus, setidaknya ada tiga jenis gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai. Pertama, influenza dan iritasi mata akibat debu dari tanah kering yang beterbangan. Kedua, gangguan pencernaan yang dipicu oleh konsumsi air tidak bersih. Ketiga, gangguan pernapasan akibat polusi debu dan asap.
"Terutama pada anak harus lebih diwaspadai, orang tua harus ekstra memperhatikan kondisi anaknya," kata Agus di Yogyakarta, Jumat.
Agus mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten. Langkah sederhana seperti penggunaan air bersih, rajin mencuci tangan, dan memastikan kebersihan lingkungan rumah dinilai efektif menekan risiko penyakit.
"Supaya masyarakat terlindungi dari risiko dehidrasi, penyakit tular vektor, gangguan pencernaan, gangguan gizi serta gangguan pernapasan akibat polusi debu/asap," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi warga yang sedang sakit. Langkah ini untuk mencegah gangguan pernapasan sekaligus memutus rantai penularan penyakit.
Selain kebersihan, pemenuhan gizi seimbang dan asupan cairan yang cukup menjadi perhatian utama. Agus menyebut cuaca panas yang berlebih dapat memicu dehidrasi jika tidak diimbangi dengan konsumsi air putih yang memadai.
"Asupan cairan penting untuk mencegah dehidrasi karena cuaca panas yang berlebih dan pemenuhan gizi seimbang dengan vitamin-mineral," kata Agus.
Dinkes Bantul berharap langkah antisipasi dini ini mampu menekan angka kunjungan pasien di puskesmas dan rumah sakit akibat penyakit musiman selama periode kemarau panjang.