DI YOGYAKARTA — Deburan ombak dan gelapnya malam bukan lagi pemandangan yang harus ditakuti warga Desa Dudepo. Setelah hampir empat dekade hidup tanpa aliran listrik, energi kini mengalir deras menerangi 395 kepala keluarga atau sekitar 1.285 jiwa yang tersebar di enam dusun. Momen bersejarah ini bertepatan dengan semangat peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, menjadi kado kemerdekaan paling nyata bagi masyarakat di Kecamatan Anggrek tersebut.
Proyek ini bukan sekadar pemasangan tiang dan kabel biasa. PLN menempuh jalur ekstrem dengan merentangkan Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kV sepanjang 1,95 kilometer sirkuit (kms) menyeberangi selat yang memisahkan Pulau Dudepo dari daratan utama Desa Ilangata. Pengerjaan bawah laut ini tercatat sebagai eksekusi kabel listrik 20 kV pertama di Pulau Sulawesi, sebuah capaian rekayasa yang menuntut presisi tinggi di tengah dinamika arus laut dan cuaca yang sulit diprediksi.
Perjuangan Berat di Balik Terangnya Pulau Dudepo
Proses penggelaran kabel di dasar laut menjadi ujian tersendiri bagi tim enjiniring PLN. Mobilisasi material berat menuju wilayah kepulauan, ditambah tingginya dinamika arus, memaksa para pekerja bertarung dengan alam demi memastikan kabel menancap aman. Kerja keras tersebut diapresiasi langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, yang mengaku terharu melihat perjuangan para petugas lapangan.
"Saya melihat sendiri bagaimana perjuangan membawa tiang dan menggelar kabel laut yang begitu berat. Ini adalah perjuangan yang luar biasa," ujar Idah dalam keterangan resmi yang dikutip, Selasa (4/8). Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga infrastruktur kelistrikan dan memanfaatkan energi yang ada secara bijak demi memajukan perekonomian desa.
Senada, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttenggo), Usman Bangun, menegaskan bahwa proyek ini merupakan wujud keadilan energi nasional. "Menjelang HUT RI ke-81, kami ingin memastikan bahwa semangat kemerdekaan dirasakan secara nyata oleh masyarakat Pulau Dudepo dalam bentuk kemerdekaan energi," tegasnya.
Bukan Sekadar Kabel, PLN Bangun Jaringan Darat Hingga 39 Kilometer
Untuk memastikan pasokan listrik benar-benar andal, PLN tidak hanya berhenti pada bentangan kabel bawah laut. Di daratan Pulau Dudepo, perusahaan pelat merah ini turut membangun infrastruktur pendukung yang masif. Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dibentangkan sepanjang 39,68 kms, disokong Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 9,958 kms, serta 7 unit gardu distribusi berkapasitas total 400 kVA.
Kehadiran infrastruktur ini diharapkan menjadi pengungkit utama roda ekonomi warga. Secara geografis, Pulau Dudepo menyimpan potensi maritim dan perikanan yang melimpah, namun selama ini kerap terkendala minimnya fasilitas pendingin (cold storage) akibat ketiadaan daya listrik konstan. Dengan listrik yang menyala 24 jam, aktivitas pengolahan hasil tangkapan nelayan diharapkan meningkat drastis.
Anggota DPR RI Komisi XII, Rusli Habibie, menilai capaian ini sebagai tonggak sejarah bagi Gorontalo. "Hari ini adalah hari bersejarah bagi Desa Dudepo dan seluruh rakyat Gorontalo," ujarnya. Keberhasilan ini sekaligus melengkapi tren positif akselerasi kelistrikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang terus digenjot PLN di kawasan Sulawesi bagian utara, memastikan tidak ada lagi desa yang tertinggal dalam menikmati akses energi.