GUNUNGKIDUL — Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, menjadi penanda program ketahanan pangan yang digarap bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian. Lahan seluas 2,5 hektare ditanami jagung untuk memberi warga sumber penghidupan alternatif. Tujuannya, memperkuat ekonomi keluarga agar tidak mudah tergiur tawaran kerja bergaji tinggi lewat jalur ilegal.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menyebut kerentanan ekonomi di wilayah perdesaan sebagai pintu masuk utama migrasi nonprosedural. Karena itu, pendekatan pencegahan digeser dari sekadar imbauan administratif ke penguatan penghidupan warga.
"Kami coba mencegah migrasi nonprosedural dengan menyasar dari sisi ketahanan pangan. Mengapa, karena kerentanan ekonomi dan kesulitan pangan membuat masyarakat di daerah rentan tergiur oleh iming-iming janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal," ujar Hendarsam saat menghadiri panen raya, Selasa (29/9/2026).
Lahan 2,5 Hektare Digarap Lima Kelurahan
Program ketahanan pangan menyasar lima kelurahan dengan total lahan 2,5 hektare. Penanaman dikerjakan bersama kelompok tani setempat, bukan proyek yang berdiri sendiri di luar struktur pertanian desa.
Hasil panen diarahkan untuk memperkuat perekonomian keluarga. Dengan penghasilan yang lebih stabil, warga diharapkan punya pilihan selain menerima tawaran keberangkatan kerja nonprosedural.
15 Desa Binaan, 8 PIMPASA Jadi Ujung Tombak Informasi
Di wilayah kerja Kanwil Ditjen Imigrasi Yogyakarta, tercatat 15 desa binaan imigrasi yang didampingi delapan PIMPASA. Desa-desa itu tersebar di Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.
PIMPASA berperan membangun komunikasi langsung dengan warga. Lewat pendampingan itu, informasi soal keimigrasian, migrasi aman, pencegahan TPPO, dan risiko keberangkatan pekerja migran nonprosedural disebarkan hingga tingkat desa.
Hendarsam berharap kehadiran Imigrasi semakin dekat dengan masyarakat melalui dua pendekatan itu.
"Kami harapkan melalui panen raya serta edukasi melalui pertunjukan wayang ini, Imigrasi bisa hadir lebih dekat, memberikan edukasi, mencegah kerentanan, serta memberdayakan masyarakat, tentunya sejalan dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat," tutupnya.
Wayang Kulit Jadi Medium Edukasi Migrasi Aman
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi DIY, Yuni Santi Nurani, menilai pencegahan TPPO tidak cukup lewat pendekatan ekonomi. Imigrasi memakai pendekatan kultural agar pesan migrasi aman lebih mudah diterima.
Pertunjukan wayang kulit digelar dengan sasaran warga umum hingga generasi muda. Dua sekolah yang terlibat adalah SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin.
"Kami adakan pertunjukan wayang kulit yang menjangkau warga umum hingga generasi muda di SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta," jelas Yuni.
Melalui jalur budaya, informasi soal bahaya TPPO dan pentingnya mengikuti prosedur bekerja ke luar negeri diharapkan sampai tanpa terkesan menggurui. Pendekatan ini melengkapi penguatan ekonomi yang sudah berjalan di desa-desa binaan.