JOGJA — Pelaku UMKM kuliner, Anis Kurniawati, mengaku kebanjiran wawasan baru setelah mengikuti pelatihan yang digelar di Kota Jogja, Kamis (18/6/2026). Pemilik usaha Es Teh Jumbo dan Es Teler itu menyebut materi tentang teknik pembuatan konten promosi dan public speaking menjadi bekal berharga untuk bersaing di era digital.
“Materinya sangat membantu UMKM supaya bisa lebih berkelas. Kami jadi tahu cara menawarkan produk dengan lebih efektif, membuat konten menarik, dan memaksimalkan promosi digital,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, peserta diajarkan membuat foto dan video promosi yang menarik untuk media sosial. Anis menilai kemampuan ini krusial karena penjualan saat ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan visual dan interaksi digital.
Ia mengaku selama ini sudah memanfaatkan TikTok, Facebook, dan WhatsApp untuk memasarkan produk. Strategi itu terbukti efektif, meski tantangan terus bertambah seiring menjamurnya penjual baru.
“Sekarang media sosial punya pengaruh besar. Tapi tantangannya juga tinggi karena penjual semakin banyak, sementara pembeli tidak selalu bertambah,” katanya.
Trainer Balai Tekomdik DIY, Bening Saraswati, menekankan bahwa kualitas produk saja tidak cukup. Menurutnya, kemampuan menjual menjadi faktor penentu keberhasilan usaha di tengah dominasi generasi milenial, zilenial, dan Gen Z.
“Produk bagus tanpa strategi pemasaran yang tepat hasilnya tidak maksimal. Sebaliknya, produk biasa bisa menjadi luar biasa jika cara menjualnya tepat,” jelas Bening.
Ia menambahkan, pendekatan pemasaran harus disesuaikan dengan gaya komunikasi dan preferensi konsumen muda yang kini mendominasi pasar. UMKM dituntut adaptif dan mampu membangun komunikasi yang relevan.
Direktur Operasional dan Bisnis PT BPR Bank Jogja (Perseroda), Heri Sutanto, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong pertumbuhan UMKM. Sepanjang 2025, Bank Jogja telah menyalurkan kredit UMKM sebesar Rp260 miliar.
Tahun ini, target penyaluran ditingkatkan menjadi Rp270 miliar sebagai bagian dari ekspansi sektor ekonomi kerakyatan. “Kami tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga pendampingan agar UMKM bisa berkembang secara berkelanjutan,” kata Heri.
Kolaborasi antara pelatihan dan akses modal ini diharapkan mampu membuat UMKM di Kota Jogja semakin tangguh, adaptif terhadap era digital, serta tumbuh menjadi usaha yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi.