YOGYAKARTA — Tim produksi serial sinematik "Rimba Raya" buka suara soal tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam menyusun adegan. Alih-alih mempercepat kerja, teknologi ini justru kerap menghasilkan visual yang keliru dan jauh dari konteks lokal Indonesia.
Rano Karno mencontohkan, saat tim meminta AI membuat latar hutan Indonesia, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Sistem tersebut tampaknya tidak memiliki basis data yang memadai tentang kekayaan alam Nusantara.
"AI ini ternyata berbahaya kalau tidak dikuasai. Misalnya pada waktu dibuat hutan Indonesia, tapi ternyata dalam (pandangan AI) tidak ada hutan," ujar Rano Karno dalam keterangannya, Senin lalu.
Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan pengawasan dan kurasi manusia. Terutama untuk karya yang mengusung identitas budaya dan alam spesifik seperti Indonesia.
Kendati memiliki kelemahan, tim produksi mengakui AI tetap membantu proses kreatif. Teknologi ini digunakan untuk menyusun berbagai adegan, mempercepat visualisasi, dan menjadi alat bantu eksplorasi ide bagi sineas.
Namun, hasil mentah dari AI tidak bisa langsung dipakai. Seluruh output harus melalui proses penyempurnaan oleh tim artistik agar sesuai dengan riset lapangan dan nilai estetika yang diinginkan.
Keterbatasan ini terjadi karena AI bekerja berdasarkan data yang dilatih sebelumnya, yang mayoritas bersumber dari referensi global. Akibatnya, visual yang dihasilkan sering kali generik dan tidak merepresentasikan keunikan hutan tropis Indonesia.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya dan alam lokal tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mesin. Kurasi manual oleh para ahli tetap menjadi kunci utama dalam produksi konten berkualitas.