DI YOGYAKARTA — Pemerintah Provinsi NTB bergerak cepat menyiapkan empat destinasi budaya pengganti setelah Dusun Adat Sade, ikon wisata Suku Sasak di Lombok Tengah, ludes terbakar. Keempatnya adalah Kampung Adat Ende, Desa Adat Bayan, Kampung Tenun Sukarara, dan Kampung Adat Pringgasela.
Langkah ini krusial. Pasalnya, target penonton MotoGP Mandalika 2026 mencapai 145.000 orang—naik 15,7 persen dari tahun sebelumnya—dan mereka semua butuh opsi wisata di sela-sela balapan.
Kebakaran terjadi Sabtu (22/8/2026) dan menghanguskan seluruh bangunan rumah adat di kawasan yang berdiri sejak abad ke-16 itu. Tradisi di dusun ini diwariskan hingga 15 generasi, menjadikannya pusat pelestarian budaya Sasak yang paling autentik di Lombok.
Wakil Gubernur NTB, Indah Damayanti Putri, menegaskan revitalisasi tidak bisa dilakukan sepihak. "Merevitalisasi Dusun Sade membutuhkan duduk bersama karena membutuhkan penyampaian dan info dari para tokoh adat yang ada," ujarnya. Proses pemulihan akan melibatkan tokoh adat agar nilai tradisi tidak hilang.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menyatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan pengelola dan komunitas budaya di empat lokasi tersebut. "Berbagai destinasi itu perlu segera kami kondisikan agar siap menerima limpahan wisatawan," katanya setelah meninjau lokasi kebakaran, Minggu (23/8/2026).
Berikut yang perlu kamu tahu sebelum berangkat:
Berlokasi di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Ende berjarak sekitar 15 menit berkendara dari Bandara Internasional Lombok. Kampung ini memiliki rumah adat berbentuk lumbung (berugaq) yang masih difungsikan sebagai tempat tinggal aktif.
Wisatawan bisa menyaksikan langsung aktivitas menenun dan memasak warga setempat tanpa settingan. Tiket masuk terpisah dari Sade dan dikelola langsung oleh masyarakat adat setempat.
Berada di kaki Gunung Rinjani, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, desa ini dianggap sebagai asal muasal Suku Sasak. Keunikannya ada pada Masjid Kuno Bayan yang dibangun dari kayu dan bambu tanpa paku, serta praktik perpaduan Islam dengan adat lokal.
Perjalanan dari Mataram sekitar 2 jam berkendara. Suasana desa yang sejuk dan jauh dari keramaian cocok untuk traveler yang mencari pengalaman budaya mendalam, bukan sekadar spot foto.
Masih di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Sukarara terkenal sebagai sentra tenun songket dan kain tradisional khas Sasak. Wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan perajin, mencoba alat tenun tradisional, dan membeli kain langsung dari sumbernya tanpa perantara.
Lokasinya sekitar 25 menit dari Kota Mataram, menjadikannya pilihan praktis untuk kunjungan setengah hari.
Terletak di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Pringgasela menawarkan suasana pedesaan yang masih asri. Selain rumah adat, kampung ini dikenal dengan kerajinan anyaman dan proses pembuatan minyak kelapa tradisional.
Perjalanan dari Mataram memakan waktu sekitar 1,5 jam. Suasananya lebih tenang dibandingkan destinasi di Lombok Tengah, cocok untuk wisatawan yang ingin menghindari keramaian.
Pemerintah NTB belum merilis tarif resmi terbaru untuk keempat destinasi ini. Sebagai gambaran, tiket masuk kampung adat di Lombok biasanya berkisar Rp 10.000–Rp 20.000 per orang, namun informasi terkini dapat dikonfirmasi via Dinas Pariwisata Lombok Tengah atau Lombok Utara.
Perlu dicatat, karena Sade tengah direvitalisasi, kunjungan wisatawan akan dialihkan ke empat lokasi ini. Disarankan datang pagi hari (08.00–10.00) untuk menghindari rombongan wisatawan dan mendapatkan pengalaman lebih intim dengan warga lokal.
Mengingat MotoGP Mandalika berlangsung Oktober, musim kemarau masih berlangsung di Lombok. Bawa topi, tabir surya, dan air minum yang cukup karena area kampung adat sebagian besar terbuka tanpa banyak pepohonan rindang.
Untuk durasi kunjungan, alokasikan minimal 2 jam per kampung agar tidak terburu-buru. Jika ingin kombinasi efisien, Kampung Ende dan Sukarara bisa digabung dalam satu hari karena lokasinya berdekatan di Lombok Tengah.